Masjid Al-Osmani berdiri tegak dengan warna kuning Diraja yang mencolok. Masjid yang didirikan tahun 1854 ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan kapsul waktu yang membawa kembali ke titik awal masuknya peradaban Islam di Kesultanan Deli.
Mahakarya Sultan dan Arsitek Jerman
Awalnya, masjid ini dibangun oleh Sultan Osman Perkasa Alam menggunakan kayu pilihan. Namun, kemegahan yang kita lihat hari ini adalah hasil renovasi besar-besaran tahun 1870 oleh putranya, Sultan Mahmud Al Rasyid. Ia menggandeng arsitek Jerman, G.D. Langereis, untuk menciptakan perpaduan jenius antara gaya arsitektur Timur Tengah, India (Mughal), Spanyol (Moor), dan Melayu.
Pusat Spiritual Ramadan Sejak Zaman Kesultanan
Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-19, Masjid Al-Osmani telah menjadi pusat tradisi Ramadhan di pesisir. Di sinilah para Sultan Deli pertama kali merayakan malam Lailatul Qadar bersama rakyatnya. Sejarawan Tengku Luckman Sinar dalam bukunya Sejarah Medan Tempo Doeloe mencatat:
"Masjid Al-Osmani bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan 'balai pertemuan' antara kedaulatan Sultan dan pengabdian rakyat. Di bawah naungan kubahnya, stratifikasi sosial melebur, terutama pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan saat Sultan Deli turun langsung memimpin perayaan keagamaan bersama masyarakat pesisir."
Tradisi berbagi dan berkumpul ini terus bertahan hingga kini, menjadikan setiap sudut masjid terasa hidup dengan doa dan lantunan ayat suci yang bergema di bawah kubah hitamnya yang ikonik.
Simak Video "Video Melihat Tradisi Mengganti Pagar Situs Pangcalikan di Ciamis"
(astj/astj)