Di balik riuh jalur lintas Sumatera, berdiri sebuah bangunan yang seolah memancarkan cahaya emas. Masjid Azizi, peninggalan megah Kesultanan Langkat, bukan sekadar tempat sujud, melainkan sebuah pernyataan seni tingkat tinggi yang menyatukan kemewahan Eropa dengan spiritualitas Timur Tengah di bumi Melayu.
Material Eropa, Jiwa Mughal
Dibangun pada tahun 1899 oleh Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah, masjid ini adalah proyek prestisius pada zamannya. Tak tanggung-tanggung, sang Sultan mengimpor langsung marmer dari Italia dan Jerman untuk menghiasi setiap sudut dindingnya. Arsiteknya pun mengadopsi gaya Mughal gaya arsitektur yang sama dengan Taj Mahal di India dengan kubah-kubah hitam yang kontras di atas bangunan berwarna kuning khas Melayu.
Sejarawan Tengku Luckman Sinar dalam catatan sejarah Sumatera Timur menekankan, "Masjid Azizi adalah simbol bahwa Langkat pernah berdiri sebagai kekuatan ekonomi besar di Nusantara. Pembangunannya yang melibatkan material lintas benua membuktikan betapa terbukanya Kesultanan Langkat terhadap kemajuan dunia luar saat itu."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kembaran Masjid Zahir Malaysia
Fakta unik yang jarang diketahui publik adalah Masjid Azizi merupakan "kakak kandung" dari Masjid Zahir di Kedah, Malaysia. Keduanya dirancang dengan inspirasi yang sama, menjadikan Masjid Azizi sebagai rujukan arsitektur Islam di wilayah semenanjung Malaka pada awal abad ke-20.
Rumah Abadi Sang Pujangga
Kompleks masjid ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Pahlawan Nasional sekaligus Bapak Bahasa Indonesia, Tengku Amir Hamzah. Di sinilah harmoni antara keindahan arsitektur, kejayaan politik masa lalu, dan pengabdian sastra bertemu dalam satu titik koordinat.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom
(astj/astj)











































