Filosofi Permainan Tradisional Congklak

Filosofi Permainan Tradisional Congklak

Siti Asyaroh - detikSumut
Sabtu, 14 Feb 2026 14:01 WIB
Replika anak-anak bermain congklak di Museum Negeri Sumut
Foto: Replika anak-anak bermain congklak di Museum Negeri Sumut (Dok. Siti Asyaroh)
Medan -

Permainan congklak dikenal luas sebagai salah satu permainan tradisional yang telah hidup lama di tengah masyarakat Nusantara. Congklak diwariskan secara turun-temurun, kerap dimainkan anak-anak hingga orang dewasa sebagai hiburan sekaligus sarana belajar nilai kehidupan.

Permainan tradisional congklak bukan sekadar hiburan masa kecil yang dimainkan di teras rumah atau halaman sekolah. Di balik papan kayu berlubang dan biji-biji kecil yang dipindahkan satu per satu, tersimpan filosofi hidup yang sarat makna.

Congklak mengajarkan nilai kejujuran, tanggung jawab, hingga cara manusia memaknai rezeki dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam jurnal berjudul "Metamorfosis Congklak" karya Dwi Agus Susila, congklak dipahami sebagai permainan yang membentuk karakter sejak dini. Ia tidak hanya melatih keterampilan berhitung atau strategi, tetapi juga menanamkan sikap mental yang penting.

"Permainan congklak ini mempunyai dampak positif, yaitu sebagai sarana melatih untuk bersikap jujur, tanggung jawab, mengatur strategi, manajemen perencanaan, melatih bersikap kritis, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan hal serta menjalin kerjasama," tulis Susila.

ADVERTISEMENT

Filosofi congklak juga erat dengan cara pandang masyarakat terhadap rezeki. Mengutip penjelasan dari laman resmi Prokopim Kabupaten Bengkalis, congklak dimaknai sebagai simbol pengelolaan rezeki yang seimbang.

"Permainan Congklak atau Dakon ini mengajarkan, bahwa jika kita mempunyai rejeki, kita dapat membaginya untuk kebutuhan kita sendiri satu per satu (tidak perlu berlebih)," demikian tertulis di laman tersebut.

Cara meletakkan biji satu per satu ke setiap lubang menjadi lambang hidup yang dijalani secara bertahap, tidak tergesa, dan tidak berlebihan.

Lebih jauh, keberadaan lubang besar atau lumbung dalam congklak menggambarkan konsep menabung dan tanggung jawab pribadi. Rezeki yang berlebih boleh disimpan, namun tidak diambil dari hak orang lain.

Nilai ini ditegaskan dalam filosofi permainan bahwa hiduplah dengan cukup dan bertanggung jawab.

"Dalam hidup kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dan saling berbagi dengan orang lain. Serta mengajarkan untuk bertanggung jawab terhadap hidup kita sendiri."

Dengan demikian, congklak bukan hanya permainan tradisional yang patut dilestarikan, tetapi juga warisan nilai yang relevan lintas zaman.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads