Benteng Putri Hijau di Tanah Deli Tua, Mahakarya Militer Kuno

Sumut in History

Benteng Putri Hijau di Tanah Deli Tua, Mahakarya Militer Kuno

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Jumat, 13 Feb 2026 08:30 WIB
Benteng Putri Hijau di Deli Tua (Foto: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)
Foto: Benteng Putri Hijau di Deli Tua (Foto: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)
Medan -

Di balik rimbunnya perkebunan dan pemukiman di Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, tersembunyi sebuah mahakarya militer kuno yang selama ini hanya dianggap sebagai latar belakang dongeng Putri Hijau. Situs ini sebenarnya adalah sebuah citadel (benteng pusat) seluas puluhan hektare yang membuktikan bahwa Sumatera Utara pernah memiliki pertahanan militer paling rumit di seluruh Pulau Sumatera pada abad ke-16.

Teknologi "Anti-Meriam" Abad ke-16

Penelitian arkeologi modern menunjukkan bahwa benteng tanah di Deli Tua bukan sekadar gundukan tanah biasa. Benteng ini menggunakan sistem vallum (tanggul) dan fossa (parit dalam) yang berlapis-lapis.

Arkeolog E. Edwards McKinnon dalam kajian mendalamnya yang berjudul "Archaeological Investigations in North Sumatra" mencatat sebuah detail teknis yang mencengangkan:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sistem pertahanan di Deli Tua memanfaatkan kontur alami sungai dan parit buatan sedalam 3 hingga 5 meter. Struktur tanah yang fleksibel namun padat ini secara teknis lebih unggul dalam meredam dentuman meriam perunggu dibandingkan tembok batu yang cenderung retak atau hancur saat dihantam proyektil berat."

ADVERTISEMENT

Hubungan Dagang Global dan Temuan Keramik

Kekayaan kerajaan yang berpusat di Deli Tua ini bukan datang dari legenda, melainkan dari posisi strategisnya sebagai gerbang perdagangan lada. Di lokasi situs, para peneliti menemukan banyak pecahan keramik dari Dinasti Ming (Tiongkok) dan Sawankhalok (Thailand).

Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya "Southeast Asia in the Age of Commerce" menjelaskan bahwa kemandirian ekonomi pedalaman Sumatera didorong oleh permintaan global:

"Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur, seperti yang ada di Delitua, bukan hanya entitas lokal. Mereka adalah pemain dalam jaringan perdagangan maritim global yang menukar komoditas hutan dan lada dengan persenjataan canggih serta barang mewah dari daratan Asia."

Ambruknya Sebuah Kekuatan Maritim

Kehancuran benteng ini dalam penyerbuan Kerajaan Aceh bukan hanya masalah asmara, melainkan persaingan hegemoni di Selat Malaka. Jatuhnya benteng Deli Tua menandai berakhirnya era kerajaan pedalaman yang mandiri di wilayah Deli sebelum akhirnya Belanda masuk beberapa abad kemudian.

Kini, ancaman terbesar bukan lagi meriam Aceh, melainkan ekskavasi liar dan pembangunan tanpa pengawasan. Tanpa perlindungan serius, saksi bisu kejeniusan militer leluhur Sumatera Utara ini akan rata dengan tanah sebelum sempat diceritakan sepenuhnya kepada generasi mendatang.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "VIdeo: Saling Tuding Soal Pembongkaran Cagar Budaya di Gresik"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads