Khanduri Peutamat Daroih, Tradisi Malam 27 Ramadan Masyarakat Aceh

Khanduri Peutamat Daroih, Tradisi Malam 27 Ramadan Masyarakat Aceh

Nanda - detikSumut
Rabu, 11 Feb 2026 03:10 WIB
Khanduri Peutamat Daroih, Tradisi Malam 27 Ramadan Masyarakat Aceh
Masjid Raya Baiturrahman Aceh (Foto: Getty Images/Irfan Fuadi)
Banda Aceh -

Aceh dikenal kaya akan adat dan tradisi turun-temurun yang kental dengan nilai keagamaan. Memasuki bulan suci Ramadan, tradisi-tradisi religius tersebut semakin hidup sebagai wujud syukur dan kebersamaan masyarakat.

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah Khanduri Peutamat Daroih, yang dilaksanakan pada malam 27 Ramadan. Malam yang diyakini penuh kemuliaan ini diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi khas masyarakat Aceh.

Ingin tahu lebih lanjut tentang tradisi malam 27 Ramadhan di Aceh? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, malam ke-27 Ramadan menjadi salah satu momentum paling sakral bagi masyarakat Aceh. Malam ini diyakini memiliki keutamaan besar karena berpotensi sebagai malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Keyakinan tersebut membuat masyarakat Aceh mengisinya dengan berbagai tradisi bernuansa religius yang sarat makna spiritual dan kebersamaan.

Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Khanduri Peutamat Daroih, yaitu kenduri bersama yang dilaksanakan di meunasah atau surau gampong. Tradisi ini menjadi ruang berkumpulnya seluruh masyarakat yang telah baligh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa agar amal ibadah selama bulan Ramadhan diterima.

ADVERTISEMENT

Rangkaian kegiatan Khanduri Peutamat Daroih umumnya dimulai sejak sore hari dengan acara buka puasa bersama di meunasah. Setiap keluarga membawa hidangan dari rumah berupa nasi beserta lauk-pauk seperti daging, ayam, atau ikan yang diolah dengan bumbu khas Aceh. Hidangan tersebut kemudian disatukan dan dinikmati bersama, mencerminkan nilai kebersamaan, solidaritas, dan persaudaraan antarmasyarakat.

Usai berbuka puasa dan melaksanakan shalat tarawih, kenduri kembali dilanjutkan dengan penyajian hidangan utama. Dalam tradisi ini, makanan yang dibagikan tidak sekadar santapan bersama, melainkan juga simbol sedekah dan kepedulian sosial. Masyarakat berharap melalui sedekah tersebut, Allah SWT melimpahkan keberkahan dan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan pada malam penuh kemuliaan.

Selain kenduri, malam 27 Ramadhan juga diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Setiap meunasah biasanya mengundang penceramah dari luar gampong untuk menyampaikan tausiah setelah shalat tarawih. Ceramah tersebut berisi pengingat tentang keutamaan Lailatul Qadar, sejarah turunnya Alquran, serta ajakan untuk memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan.

Di beberapa wilayah Aceh, seperti Pidie Jaya, tradisi Khanduri Peutamat Daroih masih terus dipertahankan hingga kini. Masyarakat menilai tradisi ini bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai-nilai agama dan menjaga keharmonisan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, malam 27 Ramadhan bagi masyarakat Aceh bukan sekadar penanda akhir sepuluh hari terakhir bulan suci, melainkan momentum sakral yang memadukan nilai ibadah, tradisi, dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi bukti kuat bagaimana masyarakat Aceh memaknai Ramadhan secara mendalam, tidak hanya secara individual, tetapi juga secara kolektif dalam kehidupan sosial dan keagamaan.

Artike ditulis Nanda Marbun, peserta maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Mengenal Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads