Bagi masyarakat Batak Toba, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian dari tatanan kosmis yang saling terhubung antara manusia, leluhur, dan kekuatan adikodrati. Cara pandang ini dikenal sebagai kosmologi Batak, sebuah sistem pemahaman tentang dunia yang membentuk adat, ritual, hingga pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kosmologi Batak Toba, alam semesta dipahami terbagi dalam tiga lapisan utama: Banua Ginjang (dunia atas), Banua Tonga (dunia tengah), dan Banua Toru (dunia bawah). Pembagian ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi menjadi dasar cara masyarakat Batak memaknai kehidupan dan kematian.
Antropolog J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa struktur kosmologi tersebut tercermin dalam tata sosial dan ritual Batak. "Pandangan kosmis orang Batak memengaruhi cara mereka mengatur kehidupan sosial, hubungan dengan alam, dan praktik ritual," tulis Vergouwen dalam kajiannya tentang masyarakat Batak Toba.
Alam Sebagai Penanda
Dalam kehidupan tradisional, fenomena alam seperti pergerakan matahari, bulan, dan bintang dijadikan penanda waktu dan pertanda. Pengetahuan ini tersimpan dalam pustaha laklak, naskah tradisional Batak yang ditulis di atas kulit kayu.
Filolog Uli Kozok dalam bukunya Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak menyebutkan bahwa pustaha memuat sistem pengetahuan kosmologis.
"Pustaha tidak hanya berisi mantra atau pengobatan, tetapi juga cara masyarakat Batak memahami alam semesta dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia," tulis Kozok.
Pengetahuan tersebut digunakan untuk menentukan waktu ritual, pertanian, hingga perjalanan jauh.
Baca juga: Jejak Porhalaan, Kalender Kuno Batak Toba |
Simak Video "Video Eksklusif: Kontras Kehidupan Old Money Vs Seleb Menurut Cast 'THE SEASON'"
(astj/astj)