Mengenal Suku Laut Riau, Hidup di Perahu

Riau

Mengenal Suku Laut Riau, Hidup di Perahu

Raja Adil Siregar - detikSumut
Jumat, 30 Sep 2022 08:00 WIB
Presiden Bangsa Orang Laut, PRj Haryono. Istimewa
Presiden Bangsa Orang Laut, PRj Haryono. (Foto: Istimewa)
Pekanbaru -

Indonesia memang sangatlah dikenal dengan beragam suku. Salah satu suku tersebut yakni Suku Laut yang ada di Riau dan Kepulauan Riau. Suku Laut atau orang laut adalah orang yang terikat kehidupannya dengan laut secara keseluruhan, baik itu hidup atau kehidupanya. Sehingga walau sudah tinggal di darat, pasti akan kembali lagi ke laut. Ini khusus untuk perantau orang laut.

"Kalau melihat itu, sebenarnya orang laut semua pasti Bangsa orang laut. Untuk Bangsa Orang Laut kumpulan dari orang-orang laut," kata Presiden Bangsa Orang Laut Sedunia, PRj Haryono saat berbincang di Pekanbaru, Kamis (29/9/2022).

Bangsa Orang Laut sendiri tercatat ada 155 suku. Bahkan orang laut ada dalam catatan sejarah Kesultanan Indragiri sejak tahun 1936 silam.


Catatan sejarah tersebut berupa selembar surat keputusan (SK) keberadaan Bangsa Orang Laut. SK itu yang kemudian merujuk keberadaan orang laut di Indragiri Hilir saat ini.

"Bangsa orang laut ada di catatan Sultan Indragiri tahun 1936 itu merupakan surat sultan terakhir terkait Bangsa Orang Laut, kalau hari ini semacam SK lah," katanya.

Bangsa Orang Laut di Indragiri Hilir terdiri dari Orang Laut, Bajau, Rarano dan lainnya termasuk akit itu sendiri. Bangsa Orang Laut ini antara satu suku dengan suku lain beda bahasa, tetapi ada bahasa kesatuan.

Haryono mengakui ada banyak orang yang tinggal di laut seperti minang, batak, bugis, jawa dan banjar. Namun mereka bukanlah orang laut.

"Ada minang, batak, banjar dan lain-lain Tapi apakah ini orang laut? Bugis sendiri adalah pelaut ulung, tapi Bugis bukan orang laut. Begitu juga yang lainnya," kata Hayono.

Tempat Tinggal dan Kehidupan Orang Laut

Pola pemukiman, pergaulan, sosial, orang laut itu pasti tinggal berkelompok. Dahulu orang laut tinggal di perahu atau sampan.

Mereka disebut sebagai orang laut karena melakukan seluruh aktivitas dan kegiatan hidup di laut. Mereka juga memfungsikan perahu atau sampan yang beratap kajang sebagai rumah mereka.

Mereka hidup berpindah dari pulau ke pulau hingga muara sungai (nomaden). Namun mereka tidak hidup sendiri, ada kelompok yang tercipta untuk mereka saling berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

"Untuk menafkahi hidup, mereka mencari ikan dengan peralatan sederhana, seperti tempuling, tombak dan serampang. Lalu di perahu itulah anak mereka lahir, hidup, dewasa, nikah dan membangun perahu baru nantinya," kata Hartono yang juga dosen di Universitas Riau tersebut.

Seiring berkembangnya zaman, orang laut mulai tinggal di rumah panggung. Rumah-rumah di tepi laut itu difasilitasi langsung oleh pemerintah.

"Saat ini kondisi itu sudah mulai tergerus karena sudah banyak tinggal di sekitar laut karena harus sekolah dan sebagainya. Sekarang mereka tinggal di rumah panggung dan berbaur dengan masyarakat umum," katanya.

Meskipun begitu, masyarakat laut masih tetap bergantung dengan laut. Hampir 95 persen kehidupan mereka ada di laut dan dari laut.

"Ada 95 persen orang laut itu tergantung sama laut. Setelah kita riset, ternyata 95 persen mereka masih beraktifitas di laut, ada 5 persen keluar untuk sekolah dan merantau," katanya.

Untuk pola kesehatan, orang laut masih percaya dengan orang pintar atau dukun. Di mana daun sirih dan ramuan tradisional lain masih menjadi cara pengobatan orang sakit.

"Kalau untuk kesehatan mengandalkan pengobatan tradiaional, sirih dikunyah-kunyah oleh dukun disemburkan itu sembuh. Maka itulah yang membuat mereka masih bergantung sama dukun," katanya.



Simak Video "4 Tokoh Masyarakat Medan yang Dianugerahi Gelar Adat Resam Melayu"
[Gambas:Video 20detik]
(ras/bpa)