Provinsi Sumatera Utara mengurangi impor bahan bakar mineral hingga 28%. Per Juli 2026, impor bahan bakar mineral di bawah US$ 100 juta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, impor bahan bakar mineral per Juli 2026 sebesar US$ 98,2 juta atau senilai Rp 1,75 triliun. Angka ini turun 28% dibanding Juni 2026 yang sempat mencapai US$ 136,5 juta atau senilai Rp 2,4 triliun.
Namun begitu, impor bahan bakar mineral mengalami kenaikan 27% secara Year on Year dari sebelumnya US$ 77 juta atau senilai Rp 1,38 triliun.
Bahan bakar mineral yang di Sumut berupa komoditi Petrolium Bitumen, bahan bakar diesel otomotif, maupun sektor motor spirit dengan RON 90 dan di atasnya, tetapi di bawah RON 97.
Hal serupa juga terjadi untuk impor plastik dan barang dari plastik yang berkurang ke Sumut menjadi US$ 23,2 juta atau senilai Rp 416 miliar, turun 32% dibanding Juni 2026 sebesar US$ 34,1 juta atau senilai Rp 611 milar.
Tak hanya itu, Sumut juga mengurangi impor buah-buahan per Juli 2026 menjadi US$ 7 juta atau senilai Rp 125 miliar. Impor buah turun 30% dibanding Juni 2026 yang sempat mencapai US$ 10,6 juta atau senilai Rp 190 miliar.
Di samping itu, nilai impor mesin-mesin ke Sumut justru naik drastis per Juli 2026 menjadi US$ 89 juta atau senilai Rp 1,59 triliun. Komoditi ini naik dratis mencapai 96% dibanding Juni 2026 yang sebesar US$ 45,4 juta atau senilai Rp 813,8 miliar.
Secara keseluruhan, impor komoditi ke Sumut per Juli 2026 sebesar US$ 577 juta atau senilai Rp 10,3 triliun, naik dibanding Juni 2026 yang dipatok US$ 551 juta atau senilai Rp 9,8 triliun.
Simak Video "Video: Selat Hormuz Ditutup, RI Pilih Impor Minyak dari AS"
(astj/astj)