Pernahkah kamu mengamati sekelilingmu dan menyadari bahwa keberadaan nenek-nenek kerap kali lebih banyak dibandingkan kakek-kakek? Atau mungkin kamu pernah mendengar kabar bahwa perempuan memiliki kecenderungan untuk hidup lebih lama daripada laki-laki?
Ternyata, ini bukan sekadar mitos atau opini semata! Secara akademis dan berdasarkan data, fenomena ini memang terbukti benar.
Dalam bidang demografi dan kesehatan masyarakat, ada istilah yang dikenal sebagai Angka Harapan Hidup (AHH) atau harapan hidup sejak lahir. Menurut penelitian berjudul "Prediksi Angka Harapan Hidup di Indonesia Berdasarkan Jenis Kelamin Menggunakan Regresi Linear" yang ditulis oleh Khoirun Nisa, AHH adalah estimasi rata-rata durasi hidup yang diharapkan seseorang sejak lahir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indikator ini sangat penting karena menjadi salah satu komponen utama dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Semakin tinggi angka harapan hidup di daerah tertentu, umumnya menunjukkan kualitas IPM wilayah tersebut yang semakin baik.
Lantas, bagaimana dengan situasi di Indonesia? Mari kita telusuri datanya lebih mendalam!
Jika kita merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Angka Harapan Hidup nasional di Indonesia sebenarnya mengalami peningkatan yang konsisten setiap tahunnya. Pada tahun 2024, AHH nasional telah mencapai angka 72 tahun.
Namun, ketika kita meneliti angka tersebut lebih lanjut berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan yang signifikan:
β’ Angka Harapan Hidup Perempuan: 74,21 tahun
β’ Angka Harapan Hidup Laki-laki: 70,32 tahun
Terdapat selisih sekitar 4 tahun yang menunjukkan bahwa wanita di Indonesia pada umumnya hidup lebih lama. Perbedaan yang signifikan ini menyadarkan para ahli bahwa strategi untuk pembangunan dan kesehatan di masa mendatang harus dirancang secara terpisah dan lebih komprehensif agar dapat memadai bagi kedua jenis kelamin.
Mengapa Pria Menghadapi Risiko Kematian yang Lebih Tinggi?
Apa yang menjadikan perbedaan usia ini ada? Apakah itu hanya disebabkan oleh faktor kebetulan? Tentu saja tidak. Menurut data dari Our World in Data, perbedaan harapan hidup antara pria dan wanita sebenarnya telah mulai terjadi sejak saat kelahiran mereka!
Berikut adalah beberapa faktor ilmiah dan sosial yang mendukung fenomena ini:
1. Kecenderungan Alami Sejak Kelahiran
Bayi laki-laki yang baru lahir secara statistik memiliki kemungkinan kematian yang lebih tinggi dibandingkan bayi perempuan. Bayi laki-laki lebih cenderung terlahir prematur dan menunjukkan angka kematian yang lebih tinggi dalam minggu pertama setelah kelahiran. Jurang ini terus berlanjut sepanjang tahun-tahun awal kehidupan mereka.
2. Faktor Imun dan Genetik
Secara biologis, anak laki-laki tampaknya lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Hal ini diduga disebabkan oleh kekuatan sistem imun mereka yang kurang dibandingkan dengan anak perempuan. Di samping itu, pria memiliki satu kromosom X (XY), sementara wanita memiliki dua kromosom X (XX). Kondisi ini membuat pria lebih berisiko mengalami sejumlah cacat genetik karena tidak adanya kromosom X tambahan yang dapat mengompensasi cacat tersebut.
3. Gaya Hidup dan Faktor Eksternal Setelah Dewasa
Setelah melewati masa kanak-kanak dan memasuki tahap dewasa (terutama saat mencapai usia 25 tahun), perbedaan angka kematian ini sebenarnya semakin besar. Mengapa hal ini terjadi? Berdasarkan analisis statistik, pria lebih sering menghadapi 'faktor penyebab kematian eksternal' seperti:
β’ Kecelakaan di jalan raya atau tempat kerja.
β’ Tindakan kekerasan.
β’ Kasus bunuh diri.
β’ Keracunan, dan perilaku berisiko tinggi lainnya.
Grafik global menunjukkan bahwa di hampir semua negara di seluruh dunia, jumlah kematian pria dewasa selalu melebihi wanita, akibat dari faktor risiko eksternal tersebut.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan"apakah benar wanita memiliki harapan hidup yang lebih panjang daripada pria? adalah YA, hal ini benar secara ilmiah dan didukung oleh statistik. Kombinasi antara kekuatan biologis sejak lahir dan kecenderungan terhadap gaya hidup yang berisiko menyebabkan pria memiliki rata-rata harapan hidup yang lebih rendah.
Meskipun demikian, angka rata-rata harapan hidup ini masih dapat ditingkatkan melalui penerapan pola hidup sehat, perhatian terhadap kesehatan mental, dan selalu mengambil langkah hati-hati saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemnker, Dwi Puspa Handayani Berutu di detikcom
(nkm/nkm)











































