Produksi Beras di Aceh Tahun 2025 Turun 25 Ribu Ton

Aceh

Produksi Beras di Aceh Tahun 2025 Turun 25 Ribu Ton

Agus Setyadi - detikSumut
Senin, 02 Feb 2026 20:19 WIB
Stok beras di gudang bulog di seluruh Aceh saat ini mencapai 118 ribu ton. (Foto: Agus Setyadi/detikSumut).
Foto: Ilustrasi. Stok beras di gudang bulog di seluruh Aceh. (Agus Setyadi/detikSumut)
Banda Aceh -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras di Aceh sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan 25,79 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi beras tertinggi di bulan Maret dan terendah pada bulan Juli.

Plh Kepala BPS Provinsi Aceh, Tasdik Ilhamudin, mengatakan, berdasarkan hasil survei kerangka sampel area (KSA), realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 283,18 ribu hektare. Angka itu mengalami penurunan sebesar 18,01 ribu hektare atau 5,98 persen dibandingkan 2024.

Puncak panen padi pada 2025 masih sama seperti 2024 yaitu terjadi pada Bulan Maret. Sementara produksi padi sepanjang tahun mencapai sekitar 1,62 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami penurunan sebesar 2,7 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 1,66 juta ton GKG.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada Bulan Maret, yaitu sebesar 294,61 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada bulan Juli yaitu sekitar 12,08 ribu ton GKG," kata Tasdik dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).

Bila produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, kata Tasdik, produksi beras selama 12 bulan setara dengan 930,49 ribu ton beras atau mengalami penurunan sebesar 25,79 ribu ton dibandingkan 2024. Produksi beras tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Maret sebesar 169,72 ribu ton.

ADVERTISEMENT

"Sementara itu produksi beras terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 6,96 ribu ton," jelas Tasdik.

Tasdik menjelaskan, angka produksi padi diperoleh dengan metode yang mengintegrasikan dua sistem pengumpulan data yaitu survei KSA padi yang menghasilkan luas panen dan survei ubinan yang menghasilkan angka produktivitas. Perkalian antara luas panen dan produktivitas menghasilkan angka produksi padi.

"Kemudian melalui konversi gabah dihasilkan indikator turunannya berupa produksi beras," ujarnya.

Sementara luas panen jagung pipilan pada tahun 2025 mencapai sekitar 8,46 ribu hektare, mengalami penurunan sebesar 1,63 ribu hektare atau 16,20 persen dibanding tahun sebelumnya. Jika dilihat trennya, puncak panen jagung pipilan 2025 berbeda dengan tahun 2024 yang terjadi pada Januari.

Puncak panen jagung pipilan 2025 terjadi pada Juni dengan luas panen sebesar 991 hektare. Menurutnya, puncak panen jagung pada Juni 2025 relatif lebih rendah 318 hektare dibandingkan Januari 2024.

Tasdik menjelaskan, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen atau sebelum dikonversi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 63,23 ribu ton. Jumlah itu mengalami penurunan sebesar 7,45 ribu ton atau 10,54 persen dibanding tahun 2024.

"Jika produksi JPK-KA 28% dikonversikan ke jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang mencapai sekitar 46,74 ribu ton atau mengalami penurunan sebesar 5,51 ribu ton (10,54 persen) dibandingkan 2024 yang sebesar 52,25 ribu ton," ujar Tasdik.




(agse/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads