Sumatera Utara mengalami deflasi sebesar 0,75% pada Januari 2026. Harga komoditi cabai merah yang turun drastis ikut menyumbang andil deflasi di Sumut.
"Sumut secara month to month mengalami deflasi sebesar 0,75%," ungkap Statistis Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Misfaruddin, Senin (2/2/2026).
Misfaruddin menyebutkan bahwa komoditi menyumbang andil deflasi tertinggi sebesar 0,49%, diikuti cabai rawit sebesar 0,14%, dan kelapa sebesar 0,11%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andil deflasi terdalam dari cabai merah ini berkaitan dengan harga yang sempat anjlok pada Januari 2026 lalu, dengan harga terendah Rp 19 ribu per kg. Harga ini di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok Rp 55 ribu per kg.
Harga di bawah HET ini bertahan dan berlanjut pada awal Februari 2026 walaupun sudah mulai ada peningkatan harga.
Sementara itu, laju andil inflasi di Sumut secara bulanan berasal dari emas perhiasan sebesar 0,15%, tomat sebesar 0,05%, maupun udang basah sebesar 0,04%. Andil inflasi pada Januari 2026 ini dapat tercermin dari kenaikan harga emas perhiasan yang naik drastis sempat menembus harga Rp 3 jutaan per gram.
Berdasarkan data BPS, deflasi terdalam berada di Kota Gunungsitoli yang mencapai 2,37%, disusul Deli Serdang sebesar 1,30%, Labuhanbatu 0,83%, maupun Kota Medan sebesar 0,62%. Sementara itu, Karo justru mengalami inflasi sebesar 0,03% pada Januari 2026.
"Satu-satunya kabupaten yang mengalami inflasi adalah Karo sebesar 0,03%," ucapnya.
(ksr/mjy)











































