Kementan Lepas 15 Kontainer Hortikultura yang Ditahan di Pelabuhan Belawan

Kementan Lepas 15 Kontainer Hortikultura yang Ditahan di Pelabuhan Belawan

Kartika Sari - detikSumut
Sabtu, 01 Okt 2022 20:30 WIB
Proses pemeriksaan dan pelepasan produk holtikultura impor di Pelabuhan Belawan.
Proses pemeriksaan dan pelepasan produk holtikultura impor di Pelabuhan Belawan. (Foto: Istimewa)
Medan -

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) Belawan melepas kembali 15 kontainer berisi produk hortikultura asal luar negeri. Produk ini sempat ditahan sejak tanggal 27 Agustus hingga 30 September 2022.

"Seluruh produk hortikultura ini telah melalui serangkaian tindakan karantina, dan dipastikan sehat dan aman. Tertahannya komoditas tersebut akibat tidak adanya dokumen Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH)," ungkap Kepala Barantan, Bambang, Sabtu (1/10/2022).

Menurut Bambang, serangkaian pengujian keamanan pangan yang tepat , yakni telah memiliki Certificate of Analysis (CoA) dari laboratorium yang teregistrasi sesuai Permentan 55 Tahun 2016.


Selain itu, dipastikan bebas dari hama dan penyakit yang berbahaya atau telah memiliki jaminan kesehatan media pembawa dengan telah adanya phytosanitary certificate (PC) dari negara asal.

"Jadi aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat," ujarnya.

Adapun produk hortikultura yang tertahan antara lain cabai kering, klengkeng, jeruk, anggur, apel berasal dari enam negara yakni, China, Amerika Serikat, Australia, India, Afrika Selatan dan Thailand, dengan nilai tonase sebanyak 272 ribu kg.

Saat ini komoditas tersebut tertahan di tiga pelabuhan yakni Belawan, Surabaya dan Tanjung Priok sejak 27 Agustus sampai dengan tanggal 30 September 2022.

Perlu diketahui, RIPH merupakan dokumen yang diterbitkan oleh Dirjen Hortikultura dan digunakan sebagai perizinan impor komoditas hortikultura yang telah berlaku sejak diterbitkannya Permentan No. 39 Tahun 2019 dan tetap berlaku hingga saat ini.

Penerbitan Permentan No. 05 Tahun 2022 tentang pengawasan RIPH adalah penugasan kepada Barantan untuk mengawasi seluruh produk impor hortikultura yang wajib RIPH sesuai dengan peraturan sebelumnya.

Penahanan terhadap komoditas hortikultura yang dilakukan oleh Barantan telah memberikan efek jera kepada pelaku usaha, sehingga diharapkan ke depan setiap pemasukan produk hortikultura dilengkapi dengan RIPH.

"Semoga kejadian penahanan ini tidak berulang dan sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Barantan akan tetap melaksanakan Permentan 05/2022," ucap Bambang.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto menyampaikan bahwa tindakan merilis atau melepas komoditas yang tertahan ini merupakan salah satu bentuk komitmen Kementan melalui Barantan dalam menjalankan Paket Ekonomi XV yang menjadi arahan dan Instruksi Presiden RI dalam penyederhanaan tata niaga ekspor dan impor. Hal ini juga menjadi komitmen dalam melaksanakan Instruksi Presiden Nomor 5/2020 tentang National Logistic Ecosystem (NLE).

Pelepasan terhadap komoditas hortikultura asal luar negeri juga telah sejalan dengan Berita Acara Pemeriksaan antara Ombudsman dengan Direktur Jenderal Hortikultura tanggal 22 September 2022, Produk Hortikultura yang sudah memenuhi uji Laboratorium, selanjutnya dapat dikeluarkan dari area pelabuhan, namun tetap berkewajiban RIPH.

Yusmanto juga menambahkan pihaknya berkomitmen dalam melaksanakan tusi perkarantinaan yakni dalam mencegah masuk masuk, keluar dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina serta pengawasan dan/atau pengendalian terhadap keamanan pangan dan mutu pangan.

"Selain itu juga dalam penerapan efektivitas dan efisiensi pelayanan di pelabuhan, dan memberikan jaminan hukum terhadap pelayanan perkarantinaan yang menjadi hal vital untuk mendukung terciptanya iklim yang kondusif bagi perekonomian nasional," pungkas Yusmanto.



Simak Video "Cegah Krisis Pangan Kementan Siapkan 30 ribu Hektar Lahan di Kalteng"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)