Jambi

Waduh! Harga TBS di Jambi Rp 800 per Kg, Petani Tak Mau Panen

Ferdi Almunanda - detikSumut
Sabtu, 25 Jun 2022 17:49 WIB
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di Mamuju Tengah , Sulawesi Barat, Rabu (11/08/2021). Harga TBS kelapa sawit tingkat petani sejak sebulan terakhir mengalami kenaikan harga dari Rp1.970 per kilogram naik menjadi Rp2.180  per kilogram disebabkan meningkatnya permintaan pasar sementara ketersediaan TBS kelapa sawit berkurang. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/wsj.
Harga TBS anjlok. (Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO)
Jambi -

Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Jambi terjun bebas ke Rp 800 per kg. Akibatnya, petani di sana ramai-ramai tak mau panen menunggu harga kembali naik agar tak merugi.

"Kalau harga TBS ini sudah sangat anjlok sekali, sekarang saja ditingkat pengepul itu ada yang Rp 650 per kg ada yang Rp 800 per kg. Rata-rata diangka Rp 800 per kg. Itu sudah jauh merosotnya, gimana petani sawit tidak merugi jadinya," kata Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Jambi Kasriwandi kepada detikSumut, Sabtu (25/6/2022).

Kondisi harga TBS yang merosot jauh itu disebut Kasriwandi membuat banyak petani Sawit di Jambi yang memilih tidak panen. Sebagian petani sawit memilih membiarkan sawit mereka busuk dibatang ketimbang panen, karena semakin merugi.


"Kalau dulu keran ekspor CPO ditutup, harga TBS masih ada diangka Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kg. Itupun 30 persen petani yang enggan mau panen. Nah sekarang keran ekspor CPO sudah dibuka tapi harga TBS masih saja tidak naik-naik malah jatuh bebas diangka Rp 800 rupiah. Ini kalau dari data kita sudah 70 persen petani sawit di Jambi yang tidak mau panen, harga TBS nya yang merosot gitu," ujar Kasriwandi.

Kasriwandi menyebutkan dengan harga TBS yang anjlok saat ini, petani sawit di Jambi kini banyak yang sudah menjerit. Apalagi harga pupuk yang masih mahal yang membuat petani sawit makin kesulitan.

Lebih lanjut Kasriwandi menyebutkan, sejauh ini pabrik-pabrik sawit yang biasanya membeli buah sawit petani juga banyak yang tidak menerima lagi hasil panen para petani. Hal itu dikarenakan lantaran tangki timbun di pabrik sudah penuh.

"Kalau alasan pabrik kan gitu, tangki timbunnya penuh jadi sulit menerima hasil buah sawit petani. Jadi kalaupun ada yang buka masih, itupun harus antre sampai tiga hari baru bisa sampai pabrik dan dibayar," terang dia.

Tidak hanya itu saja, jika harga TBS diangka Rp 800 per kg di tingkat pengepul maka harga yang sampai ke petani bisa Rp 400 rupiah. Angka Rp 400 rupiah itu pendapatan yang bisa diterima petani sawit, lantaran separuh harganya lagi itu untuk biaya upah angkut dan upah bongkar dan lainnya.

"Apalagi yang nak dinikmati petani, mau biaya untuk kebutuhan makan saja cukupnya itu, kalau untuk biaya kebutuhan sekolah anak dan lainnya mana lah cukup dengan harga TBS yang sebegitu anjloknya," ucap Kasriwandi.

Kasriwandi pun menilai meski keran ekspor CPO sudah kembali dibuka, namun pada intinya masih ada yang dibatas-batasi sehingga berpengaruh diharga TBS saat ini.

"Jadi ini masalah TBS yang anjlok saat ini saya harap Bapak Presiden harus turun tangan. Kenapa tingkat ekspor itu dibatas-batasi, sedangkan tingkat produksi sawit saja itu melimpah. Ini Pak Presiden harus menyelesaikan persoalan ini kondisi petani sawit sudah pada merugi dan terjepit," harap Kasriwandi.



Simak Video "Puluhan Petani Sawit di Riau Diserang OTK Pakai Pedang Katana"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)