8 Pabrik di Bengkulu Tolak Beli Sawit Petani, Ini Alasannya

Hery Supandy - detikSumut
Sabtu, 04 Jun 2022 20:45 WIB
Larangan Eskpor Sawit dari Indonesia Perparah Kelangkaan Global
Kelapa sawit (Foto: DW (News)
Bengkulu -

Pasca dibuka kembali keran ekspor Crude Palm Oil atau CPO oleh Presiden Jokowi, masih ada pabrik di Provinsi Bengkulu yang menolak membeli sawit petani.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Bengkulu, Riki Gunawan mencatat sejauh ini ada delapan pabrik yang belum bersedia membeli tandan buah segar (TBS) milik petani.

"Delapan pabrik masih tutup. Tangki penyimpanan mereka penuh karena belum ada pembeli CPO," kata Riki ketika dikonfirmasi, Sabtu (4/6/2022).


Riki menjelaskan, kedelapan pabrik sawit ini terpaksa menutup operasional mereka sembari menunggu pembeli CPO yang sejak ada larangan ekspor belum terjual.

"Karena mereka tutup maka tidak ada pembelian TBS oleh pabrik," jelas Riki.

Akibat tutupnya pabrik kelapa sawit, banyak petani tidak mau memanen sawit mereka lagi karena merugi.

Sebab, ketika pabrik menerima pembelian TBS, maka harganya relatif murah yakni sekitar Rp 1.400/kg.

"Kami sementara biarlah tidak panen. Dari pada dijual dengan harga murah," kata petani sawit, Dahrun secara terpisah.

Dahrun mengungkapkan, harga tersebut jauh dari ketentuan yang ditetapkan Gubernur Bengkulu yakni Rp 2.600 hingga Rp 2.800/kg.

"Kalau harganya kisaran Rp.2.600/kg masih masuk akal, masih bisa kita menutup biaya panen," ungkap Dahrun.

Harga Rp 1.400/kg, menurut dia, tidak mencukupi untuk operasional panen buah serta pupuk yang tinggi.

Untuk diketahui di Bengkulu ada 30 pabrik. Namun hanya 13 yang memiliki kebun sendiri. Untuk delapan pabrik yang tidak menerima TBS petani tersebar di beberapa daerah yakni di Kabupaten Mukomuko empat pabrik, Bengkulu Utara satu pabrik, Kaur satu pabrik, Bengkulu Tengah dua pabrik.



Simak Video "Puluhan Petani Sawit di Riau Diserang OTK Pakai Pedang Katana"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)