Label diskon 50% sering membuat konsumen tertarik membeli barang, baik saat berbelanja langsung di toko ataupun belanja online. Harga yang semula terlihat mahal mendadak terasa lebih terjangkau setelah dibandingkan dengan harga yang dicoret.
Namun, pernahkah terpikir mengapa potongan harga tersebut bisa membuat suatu barang terlihat lebih menguntungkan? Salah satu penjelasannya berkaitan dengan fenomena psikologi konsumen yang disebut anchoring effect.
Apa Itu Anchoring Effect?
Anchoring effect merupakan kecenderungan seseorang menggunakan informasi awal sebagai patokan ketika membuat penilaian atau mengambil keputusan. Dalam konteks belanja, harga awal yang ditampilkan dapat menjadi acuan bagi konsumen untuk menilai harga setelah diskon.
Misalnya, sebuah tas ditampilkan dengan harga awal Rp 400.000 dan harga promo Rp 200.000. Konsumen dapat langsung merasa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 200.000 karena melihat perbedaan kedua harga.
Padahal, besarnya penghematan yang dirasakan belum tentu mencerminkan nilai barang yang sebenarnya. Konsumen tetap perlu mempertimbangkan kualitas, harga pasaran, dan manfaat produk sebelum memutuskan membeli.
Mengapa Diskon Terlihat Menggiurkan?
Harga awal dapat menjadi semacam jangkar dalam pikiran konsumen. Ketika perhatian lebih tertuju pada besarnya potongan harga, pertimbangan mengenai kebutuhan, kualitas, dan kewajaran harga barang bisa menjadi kurang dominan.
Tampilan harga coret dan persentase diskon juga membuat perbedaan antara harga awal dan harga promo terlihat jelas. Jika penawaran disertai batas waktu atau keterangan stok terbatas, konsumen dapat merasa perlu segera mengambil keputusan sebelum kesempatan berakhir.
Meski demikian, bukan berarti setiap diskon merupakan jebakan. Harga promo bisa benar-benar menguntungkan apabila potongannya nyata dan produk tersebut sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Simak Video "Penelusuran Eksklusif Jelang Puncak Hari Belanja Online (HARBOLNAS) 2025"
(astj/astj)