Kelompok Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk Menurut Sains

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Sabtu, 24 Okt 2026 06:00 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/Jonathan Austin Daniels
Medan -

Pernah merasa selalu menjadi sasaran gigitan nyamuk, sementara orang yang duduk di sebelah justru jarang digigit? Fenomena ini bukan sekadar perasaan. Penelitian menunjukkan nyamuk memang dapat lebih tertarik kepada kelompok orang tertentu dibandingkan orang lainnya.

Ketertarikan itu tidak semata-mata ditentukan oleh golongan darah atau rasa manis darah seseorang. Nyamuk mengandalkan sejumlah sinyal untuk menemukan manusia, mulai dari karbon dioksida yang diembuskan saat bernapas hingga aroma yang berasal dari kulit.

Lantas, apa yang membuat seseorang lebih menarik bagi nyamuk? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini

Kelompok Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk Menurut Sains

1. Aroma Tubuh

Salah satu petunjuk penting berasal dari aroma tubuh. Kulit manusia menghasilkan berbagai senyawa kimia yang dapat tercium oleh nyamuk. Komposisi senyawa tersebut berbeda antara satu orang dan orang lainnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell 2022 oleh De Obaldia dan rekan-rekannya menemukan orang yang lebih menarik bagi nyamuk Aedes aegypti memiliki kadar senyawa asam karboksilat tertentu yang lebih tinggi pada aroma kulitnya.

Para peneliti menguji ketertarikan nyamuk terhadap aroma sejumlah partisipan dan menemukan perbedaan daya tarik yang dapat bertahan selama berbulan-bulan hingga beberapa tahun pengamatan. Temuan ini menunjukkan karakteristik aroma kulit berperan dalam menentukan siapa yang lebih menarik bagi nyamuk.

Meski begitu, penelitian itu tidak berarti satu senyawa saja dapat menjelaskan seluruh perbedaan. Aroma tubuh merupakan campuran berbagai senyawa, dan ketertarikan nyamuk dipengaruhi oleh kombinasi sinyal yang diterimanya.

2. Karbon Dioksida dari Napas Bantu Nyamuk Menemukan Manusia

Nyamuk juga dapat mendeteksi karbon dioksida atau CO₂ yang dikeluarkan manusia ketika bernapas. Sinyal ini membantu nyamuk mengenali keberadaan calon sumber darah di sekitarnya.

Setelah mendeteksi karbon dioksida, nyamuk dapat merespons petunjuk lain, seperti aroma kulit, panas tubuh, dan isyarat visual, untuk mendekati targetnya.

Karena itu, jumlah karbon dioksida yang dilepaskan tubuh dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketertarikan nyamuk. Namun, bukan berarti orang yang bernapas lebih banyak pasti akan selalu digigit lebih sering. Respons nyamuk bergantung pada banyak faktor, termasuk spesiesnya dan kondisi lingkungan.

3. Bakteri di Kulit Ikut Memengaruhi Aroma

Kulit manusia menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri. Mikroorganisme ini dapat memetabolisme zat yang berasal dari keringat dan kulit, lalu menghasilkan senyawa berbau yang bisa dideteksi nyamuk.

Perbedaan komposisi mikroorganisme kulit dapat berkontribusi terhadap perbedaan aroma setiap orang. Hal ini menjadi salah satu penjelasan yang diteliti untuk memahami mengapa sebagian orang lebih menarik bagi nyamuk.

Namun, hubungan antara bakteri kulit dan ketertarikan nyamuk masih terus dipelajari. Tidak tepat jika menyimpulkan bahwa orang yang lebih sering digigit pasti kurang bersih atau memiliki kebersihan tubuh yang buruk.



Simak Video "Indonesia Sehat Dimulai dari Kita"


(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork