Pernah membeli makanan ringan yang harganya masih sama, tetapi isinya terasa lebih sedikit? Kondisi ini bisa berkaitan dengan shrinkflation, yaitu strategi mengurangi ukuran atau isi produk tanpa menaikkan harga jualnya.
Fenomena ini bisa ditemukan pada berbagai produk kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan ringan hingga barang rumah tangga. Bagi konsumen, perubahan itu terkadang sulit disadari karena harga dan tampilan kemasan tidak selalu berubah secara mencolok.
Shrinkflation biasanya dilakukan perusahaan untuk menghadapi kenaikan biaya produksi, seperti bahan baku, pengemasan, dan distribusi. Dengan mengurangi isi produk, perusahaan berupaya mempertahankan harga jual sekaligus menekan biaya.
Namun, bagi konsumen, harga yang tetap belum tentu berarti nilai yang diperoleh juga sama. Jika jumlah produk berkurang, konsumen sebenarnya membayar lebih mahal untuk setiap gram atau mililiter barang yang dibeli.
Penelitian berjudul Fenomena Shrinkflation: Studi Hubungan antara Penyusutan Kemasan Momogi dengan Kepuasan Pelanggan yang diterbitkan dalam Innovative: Journal of Social Science Research 2025 meneliti hubungan ukuran kemasan dengan kepuasan konsumen.
Penelitian itu menggunakan survei daring terhadap 105 pelanggan setia Momogi berusia 18-30 tahun. Peneliti mengkaji perubahan berat kemasan yang dalam penelitian itu disebut berkurang dari 14 gram menjadi 5 gram.
Hasilnya menunjukkan, hubungan yang kuat antara ukuran kemasan dan kepuasan pelanggan, dengan koefisien korelasi sebesar 0,889. Penelitian itu juga menyimpulkan, penyusutan kemasan memengaruhi persepsi konsumen terhadap nilai produk serta kepuasan mereka.
Kajian lain berjudul Analisis Persepsi Kualitas Terhadap Perilaku Konsumen pada Perusahaan Minyak Kita yang terbit dalam Jejakdigital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2025 membahas dampak shrinkflation terhadap persepsi kualitas dan loyalitas konsumen.
Melalui studi literatur, penelitian itu menemukan, pengurangan isi produk tanpa komunikasi yang jelas berpotensi menurunkan kepercayaan konsumen terhadap merek. Konsumen dapat merasa nilai yang diterima tidak lagi sebanding dengan harga yang dibayarkan, meskipun kualitas fisik produk tidak berubah.
Kedua penelitian tadi menunjukkan, ukuran produk dan keterbukaan informasi dapat memengaruhi cara konsumen menilai suatu barang.
Cara Mengenali Shrinkflation
Agar tidak hanya berpatokan pada harga, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan saat berbelanja.
Pertama, periksa berat bersih atau volume produk. Informasi ini biasanya tercantum pada kemasan, misalnya dalam gram, mililiter, atau liter. Jangan hanya melihat besar kemasan karena ukuran bungkus belum tentu mencerminkan jumlah isi di dalamnya.
Kedua, bandingkan dengan kemasan lama jika masih tersedia. Perhatikan apakah berat bersih atau jumlah produknya berubah, sementara harga jualnya tetap sama.
Ketiga, hitung harga per satuan. Misalnya, produk seharga Rp10.000 dengan isi 100 gram memiliki harga Rp100 per gram. Jika harganya tetap Rp10.000 tetapi isinya menjadi 80 gram, harga per gram naik menjadi Rp125.
Perhitungan sederhana ini membantu konsumen mengetahui perubahan nilai produk tanpa harus menebak dari tampilan kemasannya.
Keempat, jangan langsung menyimpulkan hanya dari perubahan bentuk kemasan. Kemasan yang terlihat lebih kecil atau berbeda belum tentu menandakan shrinkflation. Pastikan ada perbandingan berat bersih, volume, atau jumlah isi dengan produk sebelumnya.
Pada akhirnya, harga yang tidak berubah belum tentu berarti jumlah barang yang diterima tetap sama. Dengan membiasakan diri memeriksa berat bersih dan menghitung harga per satuan, konsumen dapat lebih cermat saat berbelanja.
Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video CISDI: 9 dari 10 Minuman Kemasan di RI Tergolong Tak Sehat"
(nkm/nkm)