Selama enam tahun, Muhammad Taufik Hidayat bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Panas matahari, hujan, hingga pendapatan yang menurun menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun, kondisi ekonomi yang semakin sulit mendorong pria berusia 26 tahun itu mencari jalan lain. Kini, ia menekuni dunia kepenulisan dan membangun penerbitan indie.
Taufik mulai menjadi driver ojol pada awal 2020, sekitar sebulan sebelum pandemi COVID-19. Saat itu, ia masih bersekolah. Ia menempuh pendidikan pesantren selama tujuh tahun, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Terbuka.
Selama menjadi driver, Taufik mengantarkan ribuan penumpang dari berbagai latar belakang. Pengalaman bertemu banyak orang memberinya kesempatan untuk mendengar beragam cerita kehidupan yang kemudian menjadi sumber inspirasi menulis.
"Selama enam tahun mengaspal, jika dihitung mungkin sudah ribuan penumpang yang saya antarkan. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan profesi, membawa energi dan kisahnya masing-masing. Di atas jok motor itu, saya diam-diam menjadi pendengar. Ada banyak sekali fragmen kehidupan yang saya serap, dan hal itulah yang membuat saya tidak pernah kehabisan ide. Jalanan adalah perpustakaan terbesar saya," kata Taufik, Senin (19/10/2026).
Meski begitu, pekerjaan sebagai driver ojol tidak selalu mudah. Ia harus menghadapi hujan, terik matahari, orderan fiktif, hingga penumpang yang tidak bertanggung jawab atas pembayaran. Memasuki 2024 hingga 2025, pendapatan yang semakin menurun membuatnya memikirkan pekerjaan lain demi masa depan keluarga.
"Memasuki periode 2024 hingga 2025, realitas mulai terasa mencekik. Saya merasa dunia ojek online tidak lagi membawa saya ke mana-mana. Pendapatan terus tergerus, dan keluhan yang sama menggema di antara sesama driver. Kami semua merasa seperti dipaksa hidup di dalam sebuah sistem yang pelan-pelan memakai tenaga kami hingga habis. Saya tahu saya harus keluar dari pusaran ini demi masa depan keluarga," jelasnya.
Taufik kemudian melihat kembali kemampuan yang dimilikinya. Ia menyukai kegiatan menulis dan bercerita, serta merasa memiliki kemampuan menjual. Kedua hal itu menjadi modal untuk memulai pekerjaan baru di dunia literasi.
Pada akhir 2025, ia menerbitkan novel pertamanya, Dibesarkan untuk Kuat (Bukan untuk Hidup). Novel tersebut mengisahkan Malik, sosok yang terus-menerus dipaksa orang tuanya untuk mengubur mimpi-mimpinya.
Meski penjualan buku itu belum besar, karya pertamanya membuka peluang baru. Taufik mulai dikenal sebagai penulis dan mendapat pesanan pekerjaan menulis dengan nilai proyek dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Kesempatan berikutnya datang ketika seorang klien yang merupakan tokoh publik meminta bantuannya menerbitkan buku dalam waktu singkat. Taufik menawarkan jalur self-publishing atau penerbitan mandiri. Pengalaman itu kemudian mendorongnya membangun penerbitan sendiri untuk membantu penulis lain menerbitkan karya mereka.
"Saya menyadari banyak penulis potensial di luar sana yang layunya sebelum berkembang karena kesulitan menembus tembok penerbit besar. Saya ingin memotong jalur birokrasi itu dan memberikan mereka panggung," tulis Taufik.
Simak Video "Video: Berkaca dari Cerita Sekitar, How to Kill Your Husband Jadi Lebih Relate ke Pembaca"
(astj/astj)