Presiden Prancis Kumpulkan Menteri Usai Terjadi Demo Ricuh dan Penjarahan

Internasional

Presiden Prancis Kumpulkan Menteri Usai Terjadi Demo Ricuh dan Penjarahan

Yulida Medistiara - detikSumut
Minggu, 18 Okt 2026 22:30 WIB
French President Emmanuel Macron holds a news conference at the Elysee Palace, in Paris, Friday, June 13, 2025. (AP)
Foto: Presiden Prancis Emmanuel Macron. (AP Photo)
Jakarta -

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumpulkan sejumlah menteri usai demo yang berakhir ricuh dan terjadi penjarahan. Macron dilaporkan akan menyampaikan pidato hari ini.

Dilansir detikNews dari AFP, Minggu (18/10/2026), pihak Istana Elysee mengungkapkan Macron akan menyampaikan pidato setelah pertemuan dan sejumlah menteri.

Pidato ini disampaikan ketika Prancis tengah menghitung dampak kerugian akibat demo yang terjadi pada Sabtu. Diketahui dakhir ricuh usai adanya bentrokan, aksi pembakaran, dan penjarahan massal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu dilansir Reuters, seorang pengunjuk rasa meninggal dunia akibat henti jantung saat tengah berlangsung demonstrasi di Paris.

Buntut peristiwa itu, polisi disebut telah menahan sekitar 1.800 orang di seluruh Prancis. Sementara itu, lebih dari 500 petugas kepolisian mengalami luka-luka, ujar Menteri Dalam Negeri Prancis.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Presiden Macron menegaskan akan menindak kelompok yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota. "pihak yang melakukan hal itu akan dituntut dan dihukum".

Kelompok "ultra-kiri", oleh para menteri, dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut, terkait demo yang terjadi enam bulan menjelang pemilu untuk menentukan penerus Macron.

Presiden Prancis itu dijadwalkan berangkat pada hari Senin untuk melakukan kunjungan tiga hari ke empat negara Arab di kawasan Teluk yang turut terdampak oleh perang di Timur Tengah.

Konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada bulan Februari telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan tingkat inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia.

Kekhawatiran mengenai biaya hidup inilah yang memicu demonstrasi nasional di Prancis pada hari Sabtu, yang kemudian berujung pada kekerasan. Aksi ini menyusul gelombang protes selama empat minggu oleh para siswa sekolah menengah, yang dalam beberapa kesempatan juga berujung pada kekerasan.

Baca selengkapnya di sini



(mjy/mjy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads