Jangan Dianggap Sepele, Ini Dampak Konsumsi Makanan Ultra Proses

hafizna irasa hasibuan - detikSumut
Rabu, 14 Okt 2026 07:00 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/HearttoHeart0225
Medan -

Makanan praktis seperti mi instan, camilan kemasan, minuman manis, hingga makanan cepat saji kerap menjadi pilihan karena mudah ditemukan dan tidak membutuhkan banyak waktu untuk disiapkan. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, makanan ultra-proses foods (UPF) perlu mendapat perhatian karena berpotensi dengan berbagai masalah kesehatan.

Makanan ultra-processed foods merupakan produk pangan yang umumnya melalui pengolahan industri dengan formulasi bahan dan tambahan tertentu, seperti pemanis, pewarna, pengawet, atau pengemulsi. Contohnya minuman berpemanis, makanan ringan kemasan, mi instan, dan sejumlah produk daging olahan.

Menurut penelitian dalam Journal of Medical and Health Science 2026, makanan ultra-proses umumnya memiliki kandungan energi, gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium yang tinggi, tetapi relatif rendah serat serta sejumlah zat gizi penting. Meski begitu, kandungan setiap produk dapat berbeda sehingga konsumen perlu memperhatikan informasi nilai gizi pada kemasan.

Berkaitan dengan Risiko Sindrom Metabolik

Salah satu risiko yang menjadi perhatian peneliti adalah sindrom metabolik. Kondisi ini merupakan kumpulan faktor risiko kesehatan yang meliputi obesitas abdominal atau penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, trigliserida tinggi, serta kadar kolesterol HDL yang rendah.

Penelitian berjudul Pengaruh Pola Konsumsi Makanan Ultra-Proses terhadap Risiko Sindrom Metabolik pada Usia Produktif membahas hubungan pola konsumsi UPF dengan risiko sindrom metabolik pada kelompok usia 18-59 tahun. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat konsumsi makanan ultra-proses dan risiko sindrom metabolik.

Artikel tersebut juga menguraikan bahwa responden dengan konsumsi UPF lebih tinggi cenderung menunjukkan sejumlah indikator metabolik yang kurang menguntungkan, seperti lingkar pinggang lebih besar, tekanan darah lebih tinggi, dan peningkatan kadar trigliserida.

Kandungan energi yang tinggi dapat membuat asupan kalori harian berlebih apabila tidak diimbangi kebutuhan tubuh. Sementara itu, konsumsi natrium berlebihan dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Namun, risiko seseorang tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja, melainkan juga dipengaruhi pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, dan faktor kesehatan lainnya.



Simak Video "Indonesia Sehat Dimulai dari Kita"


(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork