Mengenal People Pleasure, Orang yang Selalu Bilang Iya Meski Terpaksa

Mei - detikSumut
Kamis, 10 Sep 2026 23:00 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/max-kegfire
Jakarta -

Boleh minta tolong?. Kalimat sederhana itu terkadang sulit ditolak. Meski sedang sibuk, lelah, atau sebenarnya tidak ingin melakukannya,

Sebagian orang tetap memilih menjawab "Iya, boleh" hanya karena tidak enak jika harus mengatakan tidak. Kebiasaan untuk terus mengutamakan keinginan orang lain ini sering disebut people pleasure.

Sekilas, perilaku tersebut memang terlihat seperti sikap baik dan peduli. Namun, jika dilakukan terus-menerus kebiasaan tersebut justru dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

People pleasure berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk menekan keinginan atau perasaannya sendiri demi menjaga hubungan dan mendapatkan penerimaan dari orang lain. Salah satu konsep yang berkaitan erat dengan perilaku tersebut adalah self-silencing, yaitu kecenderungan untuk menahan diri dalam mengungkapkan pikiran, kebutuhan, atau perasaan demi mempertahankan hubungan.'

Penelitian Harper dkk dalam Journal of Youth and Adolescence menjelaskan bahwa kecenderungan untuk membungkam diri demi suatu hubungan dapat diperoleh melalui proses sosialisasi. Dengan kata lain, seseorang dapat terbiasa menyesuaikan diri dan mengutamakan kebutuhan orang lain karena pola yang dipelajari dalam lingkungan sosialnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, people pleasure bisa muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, selalu menerima ajakan meskipun sedang ingin beristirahat, mengambil pekerjaan teman karena takut dianggap tidak peduli, meminta maaf meskipun bukan pihak yang bersalah, atau mengikuti keputusan kelompok meskipun sebenarnya tidak setuju.

Masalahnya, terlalu sering mengatakan "iya" tidak selalu berarti seseorang benar-benar bersedia. Ketika seseorang terus mengabaikan keinginannya sendiri, rasa lelah, kesal, bahkan kecewa dapat menumpuk.

Hal ini bukan berarti membantu orang lain atau berusaha menjaga perasaan mereka merupakan sesuatu yang buruk. Perbedaannya terletak pada alasan di balik tindakan tersebut. Membantu karena memang ingin membantu tentu berbeda dengan membantu karena takut ditolak atau merasa bersalah jika mengatakan tidak.



Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"


(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork