Selalu Bilang Iya saat Orang Lain Minta Tolong, Ternyata Ini Alasannya

Tri Wahyuni Br Tambunan - detikSumut
Senin, 07 Sep 2026 03:02 WIB
Ilustrasi kesehatan mental (Foto: Getty Images/Jajah-sireenut)
Jakarta -

Meski sedang sibuk, lelah, atau sebenarnya tidak ingin melakukannya, sebagian orang tetap memilih menjawab 'iya, boleh' ketika seseorang meminta bantuan. Hal itu hanya karena tidak enak jika harus mengatakan tidak.

Kebiasaan untuk terus mengutamakan keinginan orang lain ini sering disebut people pleasure. Sekilas, perilaku tersebut memang terlihat seperti sikap baik dan peduli. Namun, jika dilakukan terus-menerus kebiasaan tersebut justru dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

People pleasure berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk menekan keinginan atau perasaannya sendiri demi menjaga hubungan dan mendapatkan penerimaan dari orang lain. Salah satu konsep yang berkaitan erat dengan perilaku tersebut adalah self-silencing, yaitu kecenderungan untuk menahan diri dalam mengungkapkan pikiran, kebutuhan, atau perasaan demi mempertahankan hubungan.

Penelitian Harper dkk dalam Journal of Youth and Adolescence menjelaskan bahwa kecenderungan untuk membungkam diri demi suatu hubungan dapat diperoleh melalui proses sosialisasi. Dengan kata lain, seseorang dapat terbiasa menyesuaikan diri dan mengutamakan kebutuhan orang lain karena pola yang dipelajari dalam lingkungan sosialnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, people pleasure bisa muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, selalu menerima ajakan meskipun sedang ingin beristirahat, mengambil pekerjaan teman karena takut dianggap tidak peduli, meminta maaf meskipun bukan pihak yang bersalah, atau mengikuti keputusan kelompok meskipun sebenarnya tidak setuju.

Masalahnya, terlalu sering mengatakan 'iya' tidak selalu berarti seseorang benar-benar bersedia. Ketika seseorang terus mengabaikan keinginannya sendiri, rasa lelah, kesal, bahkan kecewa dapat menumpuk.

Hal ini bukan berarti membantu orang lain atau berusaha menjaga perasaan mereka merupakan sesuatu yang buruk. Perbedaannya terletak pada alasan di balik tindakan tersebut. Membantu karena memang ingin membantu tentu berbeda dengan membantu karena takut ditolak atau merasa bersalah jika mengatakan tidak.

Karena itu, mulai keluar dari kebiasaan people pleasure tidak harus dilakukan dengan tiba-tiba menjadi orang yang selalu menolak. Langkah kecil dapat dimulai dengan mengenali apa yang sebenarnya diinginkan dan memberikan waktu sebelum menjawab permintaan orang lain.

Kalimat sederhana seperti, 'Aku pikir-pikir dulu, ya,' dapat menjadi cara untuk memberi kesempatan pada diri sendiri dalam menentukan pilihan tanpa langsung merasa harus menyenangkan orang lain.

Belajar mengatakan 'tidak' juga bukan berarti menjadi egois. Menetapkan batas berarti menyadari bahwa kebutuhan diri sendiri juga memiliki nilai. Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus terus mengorbankan dirinya agar tetap diterima.

Berani berkata 'tidak' merupakan bentuk menghargai diri sendiri. Sebab, menyenangkan orang lain boleh saja, tetapi jangan sampai dilakukan dengan mengorbankan diri sendiri.

Artikel ini ditulis Tri Wahyuni Br Tambunan, mahasiswa peraktik kerja lapangan dari Unimed di detikSumut.



Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"

(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork