Fenomena Hujan Meteor Terjadi 30-31 Juli 2026: Cara Lihat di Indonesia!

Aisyah Luthfi - detikSumut
Kamis, 30 Jul 2026 19:20 WIB
ilustrasi hujan meteor (Foto: Unsplash/@schmidy)
Medan -

Fenomena astronomi langka siap menghiasi langit malam di penghujung bulan ini. Pada 30-31 Juli 2026, dua hujan meteor (meteor showers) sekaligus, yaitu Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, akan mencapai puncak aktivitasnya dalam waktu yang hampir bersamaan!

Melansir American Meteor Society, kedua hujan meteor ini menawarkan atraksi langit yang unik. Southern Delta Aquariids dikenal sering menampilkan hujan meteor yang redup namun berjumlah banyak. Di sisi lain, Alpha Capricornids memancarkan meteor yang lebih sedikit, tetapi berukuran lebih besar, lambat, dan sangat terang bak bola api (fireball).

Lantas, mengapa fenomena langka ini bisa terjadi secara bersamaan, dan bisakah detikers menyaksikannya secara langsung dari wilayah Indonesia? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Mengapa Dua Hujan Meteor Bisa Terjadi Bersamaan?

Fenomena dua hujan meteor sekaligus terjadi karena Planet Bumi melintasi dua jalur puing (cosmic debris) yang ditinggalkan oleh komet berbeda dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.

Saat mengelilingi Matahari, komet-komet tersebut meninggalkan jejak material berupa debu, batuan kecil, dan partikel lainnya di sepanjang lintasan orbitnya. Ketika Bumi melewati area peninggalan tersebut, partikel-partikel debu memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan supertinggi, bergesekan dengan lapisan udara, lalu terbakar hingga menghasilkan kilatan cahaya indah yang kita sebut sebagai meteor atau "bintang jatuh".

Karena kedua jalur puing komet tersebut sama-sama dilintasi oleh Bumi pada periode akhir Juli, para pengamat di Bumi berkesempatan menyaksikan kilatan meteor dari Southern Delta Aquariids maupun Alpha Capricornids dalam satu malam sekaligus.

Perbedaan Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids

Meski berpuncak di waktu yang hampir bersamaan, kedua fenomena ini memiliki karakteristik serta asal-usul yang sangat berbeda:

1. Southern Delta Aquariids

  • Periode Aktif: 12 Juli - 23 Agustus 2026.
  • Puncak: Hujan meteor Southern Delta Aquariids selanjutnya akan mencapai puncaknya pada malam 30-31 Juli 2026. Pada malam tersebut, tingkat kecerahan Bulan akan mencapai 98% (hampir purnama).
  • Asal-usul: Diduga berasal dari pecahan komet Marsden dan Kracht, atau Komet 96P/Machholz.
  • Karakteristik: Menghasilkan intensitas meteor hingga 25 meteor per jam (ZHR 25) dengan kecepatan sedang (41 km/detik). Namun, pancaran cahayanya cenderung redup dan tidak meninggalkan bekas jejak asap atau fireball.

2. Alpha Capricornids

  • Periode Aktif: 3 Juli - 15 Agustus 2026.
  • Puncak: Hujan meteor Alpha Capricornids selanjutnya akan mencapai puncaknya pada malam 30-31 Juli 2026. Pada malam tersebut, tingkat kecerahan Bulan akan mencapai 98% (hampir purnama).
  • Asal-usul: Berasal dari pecahan Komet 169P/NEAT yang terbelah sekitar 3.000-5.000 tahun lalu.
  • Karakteristik: Intensitasnya tergolong kecil, yaitu sekitar 5 meteor per jam (ZHR 5) dengan pergerakan lambat (23 km/detik). Keunikannya terletak pada kualitanya yang sering menghasilkan bola api (fireball) yang sangat terang dan mencolok di langit malam.

Kedua hujan meteor ini saling melengkapi. Pengamat dapat menyaksikan kombinasi hujan kilatan redup secara berkala serta lesatan bola api terang dalam satu malam.

Bisakah Dilihat dari Indonesia?

Bisa! Puncak fenomena ganda ini dapat disaksikan langsung dari seluruh wilayah Indonesia pada malam 30 hingga 31 Juli 2026. Waktu terbaik untuk melakukan pengamatan dimulai sejak tengah malam hingga menjelang fajar, dengan mengarahkan pandangan ke arah langit bagian selatan hingga barat daya (di sekitar rasi bintang Aquarius dan Capricornus).

Namun, kondisi pengamatan tahun 2026 ini menghadapi tantangan tersendiri. Fase Bulan berada pada kondisi 98% terang (hanya berjarak dua hari setelah fase Bulan Purnama). Silau pancaran cahaya Bulan akan membuat langit menjadi terang, sehingga meteor-meteor yang bernuansa redup (seperti Southern Delta Aquariids) akan lebih sulit terlihat dengan mata telanjang.

Meski begitu, detikers tak perlu berkecil hati. Kilatan bola api dari Alpha Capricornids yang berukuran besar dan terang diprediksi masih dapat menembus terangnya cahaya Bulan, terutama dari lokasi yang minim polusi cahaya.

Tips Mengamati Hujan Meteor Ganda Akhir Juli 2026

Agar pengalaman mengamati fenomena astronomi ini berjalan optimal, ikuti beberapa langkah praktis berikut:

  • Cari area yang jauh dari kerlap-kerlip lampu perkotaan, seperti lapangan terbuka, area pantai, pegunungan, atau pedesaan.
  • Tidak perlu memakai teleskop atau teropong. Alat bantu justru akan mempersempit bidang pandang mata dalam memantau seluruh area langit.
  • Hindari melihat layar HP atau sumber cahaya terang lainnya selama 20-30 menit sebelum dan saat mengamati agar pupil mata terbiasa dengan kegelapan malam.
  • Alpha Capricornids lebih ideal diamati saat malam semakin larut ketika titik pancarannya berada tinggi di langit. Sedangkan Southern Delta Aquariids mencapai posisi terbaiknya menjelang dini hari.
  • Kunci utama mengamati objek langit adalah langit malam yang bebas dari tutupan awan hujan.

Nantikan Juga: Puncak Hujan Meteor Perseid pada Agustus 2026!

Bagi detikers yang terhalang silau cahaya Bulan pada akhir Juli ini, jangan berkecil hati. Pada 12-13 Agustus 2026, langit malam akan kembali disuguhi pertunjukan astronomi yang tak kalah spektakuler, yaitu Puncak Hujan Meteor Perseid!

Istimewanya, puncak Perseid 2026 akan bertepatan dengan fase Bulan Baru (new moon) dengan tingkat pencahayaan 0%! Tanpa gangguan cahaya Bulan sama sekali, pengamat di Indonesia diperkirakan bisa menyaksikan hingga 20-40 meteor terang per jam secara jernih di ufuk timur laut mulai pukul 01.00 WIB hingga subuh.

Jadi, siapkan posisi nyaman dan tempat terbaikmu untuk menikmati keindahan fenomena hujan meteor malam ini ya, detikers!



Simak Video "Video: Nggak Cuma Geminid, Ada Hujan Meteor Ursid di Akhir 2024"

(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork