Kenapa Musim Kemarau Turun Hujan? Ternyata Ini Penyebabnya

Kenapa Musim Kemarau Turun Hujan? Ternyata Ini Penyebabnya

Eme Arapenta Tarigan - detikSumut
Kamis, 04 Jun 2026 19:58 WIB
Ilustrasi Hujan
Foto: Andrei/Pexels
Medan -

Akhir-akhir ini cuaca terasa tidak menentu kadang terasa panas terik namun tiba-tiba turun hujan lebat diikuti angin kencang. Padahal sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa musim kemarau 2026 memang akan datang lebih cepat.

Berdasarkan prediksi cuaca BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami musim kemarau lebih dulu sejak bulan April dan Mei 2026, sedangkan sekitar 23,3 persen wilayah musim di Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada Juni 2026.

Kamu pasti pernah bertanya, kenapa meskipun sudah memasuki musim kemarau tetapi tetap turun hujan? Yuk simak penjelasannya di artikel ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musim Kemarau Bukan Berarti Nol Hujan

Masih banyak dari kita yang salah paham dengan mengira kemarau berarti langit akan bersih total dari awan hujan selama berbulan-bulan. Faktanya, menurut BMKG, suatu wilayah dikatakan memasuki musim kemarau jika curah hujannya berada di bawah 50 mm per dasarian (10 hari) dan diikuti oleh dasarian berikutnya.

ADVERTISEMENT

Artinya, hujan tetap bisa turun, hanya saja intensitas dan frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan saat musim hujan. Lantas kenapa bisa terjadi hal seperti itu? Dilansir dari akun Instagram resmi @infobmkg, ada 4 alasan utama kenapa musim kemarau bisa tetap turun hujan.

Alasan Turun Hujan di Musim Kemarau

1. Lautan Hangat Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut hangat. Meskipun angin kering bertiup, penguapan dapat tetap terjadi dan menjadi bahan baku untuk pembentukan awan hujan yang bisa muncul kapan saja.

2. Gangguan Atmosfer

Penyebab lainnya adalah adanya "gangguan" cuaca skala regional yang melintas di atas wilayah Indonesia seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan sirkulasi siklonik di atmosfer.

Madden-Julian Oscillation (MJO) adalah fenomena pergerakan kumpulan awan-awan hujan dari Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati Indonesia. Jika MJO sedang melintas, wilayah yang dilewatinya akan mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan, meskipun sedang kemarau.

Sedangkan sirkulasi siklonik adalah pola pergerakan angin berputar yang terbentuk di sekitar daerah bertekanan udara rendah. Angin ini berputar masuk ke pusat tekanan dan membentuk awan konvektif tebal yang dapat memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang.

3. Faktor Topografi

Indonesia kaya akan bentang alam yang unik, mulai dari dataran rendah hingga pegunungan tinggi. Faktor ini menciptakan fenomena Hujan Orografis. Ketika angin membawa udara lembap dari laut terbentur oleh dinding pegunungan, udara tersebut dipaksa naik. Saat naik, suhu udara menurun, terjadi kondensasi, dan terbentuklah hujan di lereng gunung tersebut.

4. Efek Lokal

Pernah merasa suhu udara tiba-tiba merasa panas dan tidak lama kemudian turun hujan deras? Itu disebut sebagai hujan konventif. Hujan konventif terjadi karena pemanasan ekstrem yang membuat udara cepat naik dan menjadi awan hujan lokal.

Panas matahari yang tetap konsisten membuat udara naik dengan cepat dan membentuk awan Cumulonimbus secara mendadak di area lokal sehingga hujan tetap bisa turun meskipun musim kemarau.

Nah, itulah penyebab kenapa musim kemarau tapi tetap turun hujan ya detikers. Semoga menjawab rasa penasaranmu selama ini ya!

Artikel ditulis Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads