Makanan Sehari-hari yang Picu Risiko Kanker Mulut

Makanan Sehari-hari yang Picu Risiko Kanker Mulut

Elmy Tasya Khairally - detikSumut
Kamis, 02 Jul 2026 12:19 WIB
Asian woman suffering from sore throat, Acid reflux.
Foto: Getty Images/Eakkarat Thiemubol
Jakarta -

Kanker mulut sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Namun, tanpa disadari beberapa jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut.

Lantas, makanan apa saja yang perlu diwaspadai, dan bagaimana cara mengonsumsinya dengan lebih aman? Simak penjelasannya berikut.

Ahli THT di University of Maryland Medical Center, Kelly F. Moyer, MD, mengatakan mengonsumsi daging olahan berpotensi meningkatkan risiko penyakit kanker mulut. Beberapa daging olahan yang berpotensi meningkatkan risiko kanker mulut di antaranya sosis, bacon, ham, hingga hot dog

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip detikHealth dari laman EatingWell, International Agency for Research on Cancer menggolongkan daging olahan sebagai karsinogen Kelompok 1. "Yang berarti ada cukup bukti yang menghubungkannya dengan kanker pada manusia," katanya.

Ia menjelaskan, daging olahan umumnya mengandung nitrat dan nitrit yang dapat membentuk senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik.

ADVERTISEMENT

Tejal Parekh, RDN, LDN, ahli gizi onkologi, menjelaskan bahwa nitrat dan nitrit merupakan bahan pengawet kimia yang ditambahkan ke dalam daging olahan, seperti yang biasa terdapat pada papan charcuterie atau sandwich isi daging, untuk membantu proses pengawetan sekaligus memperpanjang masa simpannya.

Berbagai penelitian juga secara konsisten mengaitkan konsumsi nitrat dan nitrit dengan beragam jenis kanker, termasuk kanker payudara dan kanker prostat.

Menghasilkan Zat Kimia yang Merusak Sel

Memasak potongan daging asap secara konsisten di atas wajan yang sangat panas atau memanggang sosis di atas api besar dapat semakin meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.

"Daging yang dipanggang, diasap, dan dibakar juga bisa bermasalah karena proses memasak dengan suhu tinggi menghasilkan bahan kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA), yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel," kata Moyer.

Mengonsumsi daging ultra-proses dapat berkontribusi terhadap terjadinya peradangan kronis.

"Pola makan yang memicu peradangan menyebabkan kondisi peradangan ringan yang konstan di mulut, yang seiring waktu mengurangi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak," kata Moyer.

Selain itu, menurut Villa, zat besi heme yang ditemukan secara khusus dalam daging merah olahan juga dapat berkontribusi terhadap proses karsinogenesis.

Menurut Moyer, pola makan yang buruk dapat mengubah keseimbangan bakteri alami di dalam mulut. Padahal, bakteri tersebut umumnya berperan dalam melindungi kesehatan.

Di dalam mulut terdapat lebih dari 700 spesies bakteri. Banyak di antaranya membantu menjaga kesehatan mulut dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Ketika keseimbangan komunitas mikroba tersebut terganggu, atau yang dikenal sebagai disbiosis, kondisi ini dapat memicu peradangan serta berbagai perubahan lain yang berkaitan dengan penyakit.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma mulut mungkin berperan dalam perkembangan kanker mulut dengan memicu peradangan kronis serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan sel-sel abnormal tumbuh. Meskipun temuan ini masih tergolong baru, menjaga pola makan seimbang yang kaya akan buah, sayuran, dan makanan padat gizi lainnya dapat membantu mendukung kesehatan mikrobioma mulut.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads