Pemerintah dan PBNU berbeda dalam menetapkan awal tahun baru 1448 Hijriah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) buka suara soal perbedaan tersebut.
"Perbedaan awal tahun baru hijriah tidak perlu dibesar-besarkan," kata Sekjen MUI Amirsyah Tambunan dikutip dari detikNews Selasa (16/6/2026).
Hijriah, kata Amirsyah, bermakna sebagai proses perpindahan atau perubahan dari suatu keadaan, perilaku, atau lingkungan yang kurang baik menuju yang lebih baik dan diridhai Allah SWT.
"Bagi Indonesia, hijrah bermakna memperbarui sikap mental, moral, memperkuat persatuan, dan menegakkan keadilan, sehingga tercipta peradaban bangsa yang berkemajuan, adil dan makmur serta bermartabat. Pilar utama hijrah transformatif mencakup perubahan. Pertama, hijrah nilai yakni membentuk karakter anak bangsa," ucapnya.
Dia mengatakan Nabi Muhammad SAW telah meletakkan fondasi hijrah 14 abad lalu. Dia berharap tahun baru hijriah menjadi momen untuk memperbaiki diri.
"Kedua, semangat hijrah merupakan momentum memperbaiki jati diri berintegritas, kejujuran, dan menjauhi praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme," ujarnya.
Sebagai informasi, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. PBNU menetapkan hal tersebut karena hilal belum terlihat.
Dilihat dari situs resmi NU dan akun Instagram resmi Lembaga Falakiyah PBNU, Selasa (16/6), pengumuman tersebut disampaikan lewat surat nomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026.
Simak Video "Video: Rukyatul Hilal 1 Ramadan 1447 H di Gorontalo, Ketinggian Minus 1,5 Derajat"
(astj/astj)