Apa Itu Ableisme? Istilah yang Sedang Viral di Tiktok

Apa Itu Ableisme? Istilah yang Sedang Viral di Tiktok

Eme Arapenta Tarigan - detikSumut
Selasa, 09 Jun 2026 21:19 WIB
Australia akan menjadi negara pertama yang melayangkan denda pada perusahaan media sosial hingga 49,5 juta dolar Australia atau sekitar Rp544 miliar jika mereka gagal mengambil langkah-langkah untuk memblokir pengguna medsos yang berusia di bawah 16 tahun.
Ilustrasi media sosial (Foto: detikINET via Gemini AI)
Medan -

Belakangan ini media sosial khususnya TikTok sedang ramai membahas salah satu konten kreator yang sedang mempromosikan sebuah produk kecantikan dengan personal branding berpura-pura memiliki disabilitas.

Meskipun dalam klarifikasinya ia menyebutkan tidak bermaksud untuk menyinggung para disabilitas, tetapi tindakan yang dilakukan oleh konten kreator tersebut sudah termasuk termasuk kepada perilaku ableisme. Lantas apa itu ableisme? Yuk simak pembahasannya di artikel ini.

Apa Itu Ableisme?

Dilansir dari laman Disability & Philantrhropy Forum, ableisme adalah serangkaian stereotip dan praktik yang merendahkan dan mendiskriminasi orang dengan disabilitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ableisme berasumsi bahwa tubuh dan pikiran orang tanpa disabilitas adalah "standar," dan memberikan nilai pada mereka berdasarkan persepsi masyarakat tentang apa yang dianggap "normal."

Sama halnya dengan rasisme yang mendiskriminasi warna kulit, atau seksisme yang mendiskriminasi gender, ableism eadalah bentuk diskriminasi yang memojokkan kondisi fisik atau mental seseorang.

ADVERTISEMENT

Contoh Ableism dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam praktiknya, ableisme tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang terang-terangan. Sering kali, ableism hadir melalui komentar, candaan, stereotip, atau kebijakan yang tanpa disadari merugikan penyandang disabilitas.

· Menggunakan kata "cacat", "autis", "gila", atau "bego" sebagai bahan becandaan atau ejekan saat teman melakukan kesalahan.

· Memuji sekaligus meremehkan misalnya "Kamu kelihatan normal banget, kok bisa pakai kursi roda?"

· Berbicara kepada pendamping atau orang tua dari penyandang disabilitas, alih-alih berbicara langsung kepada penyandang disabilitas tersebut.

· Menggunakan fasilitas yang diperuntukkan bagi kaum disabilitas padahal non-penyandang disabilitas.

· Gedung bertingkat atau transportasi umum yang tidak menyediakan ramp (jalan landai) untuk kursi roda atau guiding block untuk tunanetra.

· Perusahaan yang menolak pelamar kerja hanya karena ia memiliki disabilitas fisik, padahal kemampuannya sangat mumpuni untuk posisi tersebut.

Karena hal-hal ini, penyandang disabilitas mungkin merasa bahwa masyarakat tidak menganggap mereka setara. Ableisme biasanya tidak disengaja. Tetapi masalah yang ditimbulkannya membuktikan adanya kesenjangan antara bagaimana masyarakat memandang penyandang disabilitas dan mereka yang tidak.

Ableism Tidak Selalu Disengaja

Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa ableism selalu dilakukan dengan niat buruk. Faktanya, banyak bentuk ableism yang terjadi karena kurangnya pengetahuan atau kesadaran.

Misalnya, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa penggunaan kata-kata tertentu dapat dianggap merendahkan penyandang disabilitas. Oleh karena itu, edukasi dan pemahaman menjadi langkah penting untuk mengurangi praktik ableisme di masyarakat. Lantas, bagaimana cara kita menghindarinya?

· Berhenti menggunakan kata-kata seputar diabilitas sebagai bahan umpatan atau candaan.

· Berhenti menganggap lucu konten yang merendahkan kaum diabilitas.

· Tidak menirukan cara berbicara atau tingkah laku penyandang disabilitas.

· Penyandang disabilitas tidak butuh dikasihani secara berlebihan atau dianggap sebagai "pahlawan" hanya karena bertahan hidup. Mereka butuh hak yang setara dan aksesibilitas yang sama.

· Bertanya sebelum membantu, jika melihat penyandang disabilitas yang tampak kesulitan bertanya terlebih dahulu apakah mereka butuh bantuan atau tidak. Jangan langsung menarik atau mendorong mereka tanpa izin, karena itu bisa mengganggu ruang personal mereka.

Kasus viralnya kasus konten kreator di TikTok dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih memahami apa itu ableisme, karena perilaku ableisme tidak selalu dilakukan dengan sengaja. Semoga bermanfaat detikers!

Artikel ini ditulis oleh Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads