Bangsa Indonesia akan segera menggelar upacara bendera untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 pada Rabu, 20 Mei 2026 esok hari. Momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan di atas lapangan, melainkan sebuah refleksi besar untuk mengenang kembali titik balik perjuangan para pendahulu dalam merebut kedaulatan bangsa.
Mengutip buku "Sejarah Nasional Indonesia" karya Manarfa dkk., tonggak sejarah ini bermula dari lahirnya organisasi modern pertama di tanah air. Peristiwa tersebut menjadi "fajar menyingsing" bagi kesadaran berbangsa, di mana perjuangan fisik yang semula bersifat kedaerahan mulai bertransformasi menjadi gerakan intelektual dan diplomatik yang terstruktur.
Bagi detikers yang ingin mendalami kilas balik perjuangan bangsa, yuk simak catatan lengkap mengenai sejarah Harkitnas hingga faktor pemicunya berikut ini!
Faktor Pendorong Munculnya Kebangkitan Nasional
Lahirnya kesadaran nasional di Indonesia tidak terjadi secara spontan, melainkan dipicu oleh akumulasi faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan, di antaranya:
Faktor Internal (Dari Dalam Negeri)
Penderitaan Panjang Akibat Penjajahan
Sistem kerja paksa, diskriminasi sosial, dan kemiskinan sistemik menjadi pemantik utama kejengkelan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda hingga penjajahan Jepang.
Memori Kejayaan Masa Lalu
Adanya kerinduan dan rasa bangga kolektif akan kebesaran kerajaan kuno Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit yang pernah menyatukan wilayah luas.
Lahirnya Kaum Intelektual Pribumi
Penerapan Politik Etis oleh pemerintah kolonial tanpa sengaja membuka akses pendidikan maju bagi sebagian kecil anak bumiputera. Alih-alih sekadar menjadi tenaga administrasi pesuruh kolonial, para pelajar STOVIA seperti dr. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji Tirtonegoro justru memanfaatkan ilmu tersebut untuk menyemai benih nasionalisme.
Faktor Eksternal (Dari Luar Negeri)
Masuknya Paham-Paham Modern
Mengalirnya gagasan liberalisme, sosialisme, dan nasionalisme dari Eropa ke pikiran para pemuda terpelajar Indonesia.
Kebangkitan Bangsa Asia
Inspirasi dari gerakan Turki Muda di Turki dan Kongres Nasional India memberikan bukti nyata bahwa bangsa Asia bisa mengonsolidasikan kekuatan secara mandiri.
Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)
Kemenangan militer Jepang atas kekaisaran Rusia mematahkan dogma lama bahwa bangsa Eropa tidak terkalahkan, sekaligus mendongkrak rasa percaya diri bangsa-bangsa Asia, termasuk para pejuang di Indonesia.
Estafet Perjuangan, Dari Budi Utomo hingga Sumpah Pemuda
Berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang berfokus pada jalur pendidikan, sosial, dan kebudayaan segera memicu efek domino. Organisasi-organisasi berbasis massa dan politik mulai menjamur, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, hingga Partai Nasional Indonesia (PNI).
Pada era pergerakan ini, muncul pula tokoh-tokoh ikonik "Tiga Serangkai" yakni Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara yang vokal mengkritik kelakuan penjajah. Kritik tajam Ki Hajar Dewantara melalui esai bertajuk Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) bahkan sempat membuat dirinya diasingkan oleh kolonial. Estafet kesadaran nasional ini kemudian mencapai puncaknya pada 28 Oktober 1928, saat para pemuda dari seantero negeri mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa dalam peristiwa Sumpah Pemuda.
Asal-usul Penetapan Hari Kebangkitan Nasional oleh Bung Karno
Harkitnas merupakan hari nasional yang pertama kali dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1948 di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Pada saat itu, kondisi Indonesia yang baru seumur jagung kembali terancam oleh agresi militer kolonial pascakemerdekaan. Presiden Soekarno menilai semangat kelahiran Budi Utomo 1908 perlu dihidupkan kembali guna merekatkan persatuan nasional yang mulai goyah.
Secara yuridis resmi, ketetapan ini diperkuat melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Peringatan ini bertujuan mempertebal rasa bangga, memperkuat kepribadian bangsa, serta merawat semangat persatuan antargenerasi.
Tema ke-118 dan Susunan Upacara Bendera Harkitnas 2026
Mengutip Pedoman Peringatan Harkitnas 2026 yang dirilis oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), tema Harkitnas ke-188 adalah "Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara". Tema ini menitipkan pesan krusial mengenai pentingnya membina generasi muda sebagai penerus estafet kepemimpinan, sekaligus menegaskan urgensi mewujudkan kedaulatan di sektor teknologi informasi digital sebagai fondasi utama ketahanan nasional di era modern.
Berdasarkan pedoman resmi Komdigi, berikut adalah tata urutan kegiatan upacara bendera Harkitnas 2026 yang wajib diikuti secara tertib:
- Pengibaran Bendera Merah Putih diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
- Menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
- Mengheningkan cipta dipimpin oleh Inspektur Upacara.
- Pembacaan naskah Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
- Pembacaan naskah pidato Menteri Komunikasi dan Digital menyambut Peringatan ke-118 Tahun Hari Kebangkitan Nasional oleh Inspektur Upacara.
- Menyanyikan lagu Perjuangan (Bagimu Negeri dan Satu Nusa Satu Bangsa).
- Pembacaan doa.
Nah, itulah informasi mengenai Sejarah Hari Kebangkitan Nasional beserta panduan upacara resminya, detikers. Mari kita jaga kobaran semangat "kebangkitan" ini dengan terus berkontribusi positif dan menjaga kedaulatan bangsa kita. Selamat memperingati Harkitnas ke-118, detikers!
Simak Video "Video: Hari Kebangkitan Nasional, Harus Bangkit dari Apa Sih?"
(nkm/nkm)