Kota Medan kerap mendapat julukan sebagai "kota preman". Meski terdengar negatif, sebutan tersebut memiliki akar sejarah yang panjang dan berkaitan dengan perkembangan organisasi kepemudaan, perebutan pengaruh ekonomi, serta dinamika politik lokal.
Dalam buku Kisah dari Deli: Masalah Sosial dan Pembangunan di Kota Medan (Jilid II), Erond L. Damanik membahas fenomena ini dalam Bab III berjudul Organisasi Kepemudaan: Rowdy Youth, Godfather dan Culture of Violence.
"Salah satu keunikan Kota Medan dewasa ini adalah tumbuh dan berkembangnya berbagai Organisasi Kepemudaan," tulis Erond.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Erond, keberadaan organisasi kepemudaan di Medan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sosial, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap aspek keamanan, ekonomi, hingga politik.
"Pengaruh itu dapat saja menyoal keamanan, kenyamanan, ekonomi dan sosial, serta politik," tulisnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sejumlah kelompok membagi wilayah Kota Medan ke dalam area-area tertentu yang menjadi basis pengaruh mereka.
"Mereka membagi Kota Medan berdasarkan wilayah-wilayah tertentu sebagai daerah kekuasaannya," tulis Erond.
Pembagian wilayah tersebut berkaitan dengan berbagai sumber keuntungan.
"Pembagian wilayah itu menandai 'daerah kekuasaan' untuk meraup keuntungan seperti pengelola parkir, keamanan wilayah maupun beking pertokoan atau perumahan penduduk," tulisnya.
Dalam analisisnya, Erond menyebut bahwa organisasi kepemudaan sering diidentikkan dengan istilah rowdy youth atau pemuda berandalan.
"OKP dimanapun selalu diidentikkan dengan organisasi rowdy youth (pemuda berandalan) yang mencerminkan culture of violence (budaya kekerasan)," tulis Erond.
Kajian ini menunjukkan bahwa julukan "kota preman" tidak muncul tanpa sebab. Sebutan tersebut berakar dari sejarah panjang hubungan antara organisasi kepemudaan, kekuasaan ekonomi, dan politik lokal yang berkembang di Medan selama puluhan tahun.
Melalui penelusuran sejarah ini, Erond mengajak pembaca melihat bahwa reputasi Medan merupakan bagian dari dinamika sosial yang kompleks, sekaligus cermin dari perjalanan kota yang dibentuk oleh berbagai kekuatan di ruang publik.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
(mjy/mjy)











































