Waspadai Efek Food Noise, Pikiran Tetap 'Lapar' Meski Perut Kenyang

Waspadai Efek Food Noise, Pikiran Tetap 'Lapar' Meski Perut Kenyang

Devandra Abi Prasetyo - detikSumut
Senin, 11 Mei 2026 05:59 WIB
Waspadai Efek Food Noise, Pikiran Tetap Lapar Meski Perut Kenyang
Foto: Ilustrasi. (Istock)
Jakarta -

detikers pernah tidak mengalami ketika kondisi perut sudah merasa kenyang, tapi pikiran masih terus 'menyuruh' untuk makan? Di saat sarapan pagi saja belum, namun sudah kepikiran mau makan apa pada malam hari sembari membuka aplikasi pesan makan online.

Hal itu disebut sebagai 'food noise'. Dilansir detikHealth dari Harvard Health, berdasarkan sebuah laporan tahun 2025 'food noise' didefenisikan sebagai pikiran terus-menerus tentang makanan yang dianggap seseorang sebagai hal yang tidak diinginkan atau menyusahkan dan yang dapat menyebabkan masalah sosial, mental, atau fisik.

Dokter spesialis gizi klinik, dr Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, Subsp.KM, SpKKLP, AIFO-K mengatakan bahwa umumnya kebisingan ini jadi 'musuh' dari mereka yang obesitas dan ingin diet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks. Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi," ujar dr Iflan di Kawasan PIK 2, Kabupaten Tangerang, Jumat (8/5/2026).

ADVERTISEMENT

dr Iflan menambahkan food noise ini merupakan faktor biologis imbas 'dorongan' dari otak.

"Nah ini yang harus kita kendalikan, namanya dopamin. Ini yang harus kita turunkan dopaminnya, kita kendalikan supaya food noise itu tidak mengganggu kehidupan sehari-hari," katanya.

Menurut dr Iflan, dorongan-dorongan visual seperti melihat makanan yang muncul di layar gadget hingga dapat memicu food noise itu sendiri. Hal ini memunculkan keinginan untuk ingin mencoba rasanya, meskipun sebenarnya tubuh sudah dalam kondisi 'cukup'.

"Lagi penciuman, aroma makanan. Aduh (itu makin memperparah), itu pintarnya pedagang," katanya.

Untuk 'meredam' food noise ini, salah satu cara dengan inovasi medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang berperan dalam membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak.

Dengan bekerja pada jalur biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, inovasi ini terbukti secara klinis dapat memperbaiki kontrol makan melalui penurunan rasa lapar, pengurangan keinginan makan, serta peningkatan rasa kenyang.

Artikel ini telah tayang di detikHealth, baca selengkapnya di sini




(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads