Tren Nongkrong Anak Muda Medan dan Dampaknya Terhadap Putaran Ekonomi

Nanda Marbun - detikSumut
Jumat, 01 Mei 2026 07:00 WIB
Foto: Anak Muda Medan ramai nongkrong di Kesawan, Jalan Ahmad Yani, Medan. (Nanda Marbun/detikSumut)
Medan -

Kesawan Ramai Tongkrongan Anak Muda, Penggerak Ekonomi atau Sekadar Gaya Tren?

Medan- Kawasan Kesawan di Kota Medan belakangan ini dipadati anak muda yang menghabiskan waktu dengan nongkrong, berburu kuliner, hingga menikmati suasana kota tua. Fenomena ini memunculkan pertanyaan, apakah keramaian tersebut benar-benar menjadi penggerak ekonomi atau hanya sebatas tren gaya hidup.

Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Dr. Arif Rahman, menilai bahwa keramaian di Kesawan tidak bisa dijadikan indikator utama pertumbuhan ekonomi secara makro, meskipun tetap memiliki keterkaitan terhadap aktivitas ekonomi.

"Keramaian di Kesawan tidak bisa dijadikan indikator utama pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap memiliki keterkaitan melalui aktivitas konsumsi dan hubungan dengan sektor formal. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi diukur dari PDRB (produk domestik regional bruto) yang berbasis nilai tambah atau nilai akhir dan aktivitas ekonomi yang tercatat," katanya kepada detikSumut saat dihubungi Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, meskipun tidak semua transaksi UMKM tercatat secara langsung dalam sistem ekonomi formal, kontribusi tetap ada melalui rantai pasok. Aktivitas pedagang kecil tetap terhubung dengan sektor formal yang masuk dalam perhitungan PDRB.

"Meskipun transaksi di tingkat UMKM tidak seluruhnya tercatat, mereka tetap berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi melalui rantai pasok. Misalnya, pedagang jus membeli gula, bahan baku, dan kemasan dari pelaku usaha formal yang tercatat. Artinya, secara tidak langsung aktivitas UMKM ini tetap masuk dalam perhitungan PDRB melalui sektor-sektor tersebut," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa aktivitas nongkrong anak muda di kawasan tersebut memiliki dampak nyata terhadap perputaran ekonomi lokal, terutama bagi pelaku usaha kecil dan sektor formal seperti kafe dan restoran.

"Kalau dilihat di lapangan, pengaruh aktivitas nongkrong anak muda terhadap perputaran ekonomi itu cukup signifikan, baik bagi pedagang kecil maupun pelaku usaha formal seperti kafe dan restoran di kawasan tersebut. Karena sebagian besar pengunjung melakukan konsumsi, seperti membeli makanan, minuman, kerajinan, dan dagangan lainnya," katanya.

Menurutnya, meskipun nilai transaksi per individu relatif kecil, jumlah pengunjung yang besar mampu menciptakan akumulasi perputaran uang yang cukup tinggi dalam waktu singkat.

"Memang nilai transaksi per orang bisa saja relatif kecil, tapi karena jumlah pengunjungnya banyak, maka secara agregat menciptakan perputaran uang yang cukup besar dalam waktu singkat. Ini yang membuat pelaku usaha, terutama UMKM, merasakan langsung peningkatan pendapatan, sementara kafe dan restoran juga mendapat tambahan omzet yang lebih stabil dan tercatat," lanjutnya.

Dari sisi yang lebih luas, fenomena ini juga mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda, yang kini menjadikan aktivitas nongkrong sebagai bagian dari gaya hidup.

"Tren ini mencerminkan kombinasi antara peningkatan daya beli dan perubahan gaya hidup generasi muda. Di satu sisi, aktivitas nongkrong yang cukup masif menunjukkan bahwa memang ada kemampuan konsumsi di masyarakat. Ini juga terlihat dari peningkatan pendapatan per kapita di Kota Medan, dari sekitar Rp132 juta pada 2024 menjadi Rp141 juta pada 2025, yang menunjukkan adanya ruang konsumsi yang lebih besar," ungkapnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa konsumsi yang terjadi tidak semata-mata untuk kebutuhan dasar, melainkan juga sebagai bentuk interaksi sosial dan identitas.

"Di sisi lain, ini juga mencerminkan perubahan gaya hidup, di mana konsumsi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi bagian dari interaksi sosial dan identitas anak muda. Jadi bisa dikatakan, daya beli itu memang ada dan cenderung meningkat, tetapi diekspresikan dalam bentuk konsumsi gaya hidup, khususnya di ruang-ruang publik seperti Kesawan," tuturnya.

Dampak positif juga dirasakan oleh pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut. Keramaian yang terjadi secara langsung meningkatkan jumlah pembeli dan pendapatan harian mereka.

"Dampaknya terhadap UMKM, khususnya pedagang kecil di Kesawan, cukup positif. Keramaian yang terjadi secara langsung meningkatkan jumlah pembeli, sehingga pendapatan harian mereka juga ikut naik. Ini penting, karena bagi UMKM kecil, peningkatan pendapatan harian itu sangat terasa," pungkasnya.

Fenomena ramai tongkrongan anak muda di Kesawan menunjukkan bahwa meskipun belum sepenuhnya berdampak besar terhadap indikator ekonomi makro, aktivitas nongkrong anak muda tetap menjadi penggerak penting bagi ekonomi lokal sekaligus mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.

Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom



Simak Video "Video: Gak Pusing Plastik Mahal! UMKM Lumajang Balik ke Daun Pisang"

(nkm/nkm)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork