Sering Mulas Saat Gugup? Psikolog Ungkap Kaitan Stres dan Diare

Sering Mulas Saat Gugup? Psikolog Ungkap Kaitan Stres dan Diare

Laila Syakira - detikSumut
Selasa, 28 Apr 2026 22:41 WIB
Perut Mulas hingga Diare
Ilustrasi mulas (Foto: Ilustrasi iStock)
Medan -

Kondisi stres dan kecemasan ternyata tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga bisa memicu gangguan fisik seperti diare. Hal ini kerap terjadi saat seseorang menghadapi situasi menegangkan seperti wawancara kerja, presentasi, hingga interaksi di depan banyak orang.

Karin, seorang mahasiswa, mengaku kerap mengalami gejala fisik saat gugup sebelum tampil di depan umum.

"Sebelum tampil apalagi kalau nama sudah terpanggil, rasanya campur aduk. Pikiran ke mana-mana, perut langsung terasa muter, sampai keringat dingin," ujarnya, Selasa (28/04/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Psikolog klinis Sairah menyebut, fenomena tersebut merupakan hal yang umum terjadi dan berkaitan dengan faktor psikologis.

"Fenomena ini cukup sering terjadi. Artinya, faktor psikologis itu memang bisa mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Tidak selalu diare, tapi reaksinya bisa bermacam-macam, ada yang jadi sering buang air kecil, sakit perut melilit, mual, atau perut terasa tidak nyaman. Setiap orang bisa menunjukkan respon yang berbeda, tergantung bagian tubuh mana yang paling sensitif atau lemah," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, saat seseorang mengalami kecemasan, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Kortisol merupakan hormon yang dilepaskan tubuh saat menghadapi stres dan berperan membantu tubuh merespons tekanan. Namun, jika kadarnya meningkat, hormon ini juga dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk sistem pencernaan.

"Ketika hormon stres seperti kortisol meningkat, itu bisa mempengaruhi fungsi biologis tubuh. Pada sebagian orang, dampaknya terasa di sistem pencernaan, misalnya gerakan usus menjadi lebih aktif dan sensitif, sehingga memicu gejala seperti diare, mulas, atau mual," jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi ini juga berkaitan dengan respon alami tubuh yang dikenal sebagai fight or flight response, yaitu saat tubuh membaca situasi sebagai ancaman.

"Dalam kondisi cemas atau tegang, tubuh merespons seolah-olah sedang menghadapi bahaya. Hormon stres meningkat, dan itu berdampak langsung ke fungsi tubuh, termasuk pencernaan. Makanya, misalnya sebelum wawancara atau presentasi, seseorang bisa merasa ingin bolak-balik ke kamar mandi," katanya.

Terkait cara mengatasi, Sairah menyebut penanganannya perlu disesuaikan dengan tingkat kecemasan yang dialami. Untuk kondisi ringan, masyarakat bisa melakukan teknik sederhana secara mandiri.

"Cara yang paling sederhana bisa dimulai dari relaksasi, seperti latihan pernapasan atau relaksasi progresif. Selain itu, penting juga mengenali pola pemicunya. Misalnya, jika sering muncul sebelum presentasi, maka perlu dilakukan persiapan yang lebih matang, seperti memahami materi dan datang lebih awal agar lebih siap," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga pola hidup dan mengelola pikiran.

"Pola makan dan pola hidup juga berpengaruh. Kemudian, pikiran-pikiran negatif yang memicu kecemasan perlu diidentifikasi dan dikendalikan. Ada teknik seperti *thought stopping* atau latihan berpikir positif yang bisa membantu. Jadi tidak hanya tubuh yang dilatih untuk rileks, tapi juga pola pikirnya," lanjutnya.

Namun, jika kecemasan yang dirasakan sudah cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional.

"Kalau tingkat kecemasannya sudah sedang hingga tinggi, sebaiknya konsultasi dengan tenaga profesional agar bisa mendapatkan penanganan yang lebih tepat, termasuk terapi psikologis yang sesuai," tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemenaker di detikcom.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads