Seorang anak seharusnya tumbuh dengan ruang bermain, belajar, dan mengekspresikan emosi secara wajar. Namun, tidak sedikit anak yang justru dibebani peran orang dewasa sejak dini, baik secara emosional maupun tanggung jawab di dalam keluarga.
Kondisi ini kerap luput dari perhatian karena dianggap sebagai bentuk kemandirian. Padahal, di balik sikap "dewasa" tersebut, anak bisa saja sedang memikul beban yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya.
Psikolog anak dan remaja, Maya Yasmin, menjelaskan bahwa fenomena ini dikenal sebagai adultification, yaitu ketika anak dipaksa bersikap dewasa bukan karena kesiapan, melainkan tuntutan lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adultification, sederhananya anak dipaksa bersikap seperti orang dewasa, bukan karena siap tapi karena tuntutan orang sekitar. Contohnya: anak diminta menenangkan emosi orang tua, mengurus adik padahal seharusnya ia juga masih perlu diurus orang dewasa, dituntut selalu tangguh, dilibatkan dalam urusan yang belum sesuai kapasitasnya, dan hal semisalnya. Intinya, anak lebih berfungsi sebagai penyangga kebutuhan orang dewasa daripada menjalani masa kecilnya," jelasnya, (25/4/2026).
Dalam praktiknya, kondisi ini sering tidak disadari. Anak yang terlihat mandiri kerap dianggap berhasil, padahal di balik itu ada beban yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Orang tua, tanpa disadari, bisa menempatkan anak sebagai penopang emosi maupun harapan keluarga.
"Fenomena ini tentunya memprihatinkan, karena seringkali orang tua tanpa sadar memosisikan anak sebagai tempat menyangga beban dan harapan yang tidak realistik. Mereka justru merasa bangga karena anak terlihat hebat dan mandiri, padahal tanpa disadari sedang merenggut hak anak untuk menikmati masa kecilnya," tambahnya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan saat anak-anak, tetapi bisa berlanjut hingga dewasa. Anak berisiko mengalami kecemasan, kelelahan emosional, hingga kesulitan memahami dan mengekspresikan perasaan. Dalam jangka panjang, mereka juga cenderung sulit menetapkan batasan dan selalu mendahulukan kebutuhan orang lain.
Untuk mencegahnya, orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda. Pemberian tanggung jawab harus disesuaikan dengan usia dan kapasitas anak, disertai ruang yang cukup untuk bermain dan mengekspresikan emosi.
"Untuk mencegahnya, orang tua perlu menyadari bahwa anak adalah pribadi yang utuh dengan hak untuk tumbuh sesuai tahapan perkembangannya. Beri tanggung jawab yang realistis, sesuai dengan tahap perkembangannya. Berikan anak ruang untuk mengekspresikan emosi seperti marah atau sedih, serta pastikan ia punya waktu yang proporsional untuk bermain & menyelesaikan tanggung jawab," tutupnya.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































