Humor kerap dianggap sebagai cara sederhana untuk mencairkan suasana. Namun, tidak semua candaan bisa diterima begitu saja.
Di balik tawa, ada jenis humor yang justru menyimpan persoalan serius, yakni humor seksis. Dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Meutia Nauly menjelaskan, humor seksis adalah candaan yang merendahkan atau menempatkan seseorang dalam stereotip berdasarkan gender.
Perempuan, kata dia, menjadi kelompok yang paling sering dijadikan sasaran.
"Humor seksis adalah bentuk humor yang merendahkan, menstereotipkan, atau mengobjektifikasi seseorang berdasarkan gender, terutama perempuan. Sering menjadikan tubuh, peran, atau kemampuan perempuan sebagai bahan lelucon," jelasnya, Jumat (24/4/2026).
Menurut Meutia, dalam berbagai kajian, humor seksis tidak bisa lagi dianggap sekadar candaan biasa. Bentuk humor ini sudah masuk dalam kategori kekerasan, meski tidak dilakukan secara fisik.
"Humor seksis dapat dikategorikan sebagai kekerasan verbal seksual karena disampaikan melalui kata-kata yang merendahkan. Ini juga termasuk kekerasan simbolik, yaitu kekerasan yang halus, tidak langsung, dan sering tidak disadari," lanjutnya.
Ia menambahkan, praktik humor seksis juga kerap muncul dalam bentuk yang lebih familiar di ruang publik, seperti komentar bernuansa pelecehan atau catcalling. Hal ini membuat batas antara bercanda dan melecehkan menjadi semakin kabur.
"Dalam praktik seperti catcalling, humor seksis merupakan bagian dari pelecehan verbal. Walaupun disampaikan sebagai bercanda, isi dan efeknya tetap bisa merendahkan," katanya.
Dari sisi dampak, Meutia menegaskan bahwa efek humor seksis tidak bisa dianggap ringan. Secara emosional, korban dapat merasa tidak nyaman, tersinggung, hingga terhina. Bahkan, kondisi ini bisa menurunkan rasa aman, terutama di ruang publik.
"Dampaknya tidak ringan, mulai dari perasaan tidak nyaman, menurunkan rasa aman, hingga mempengaruhi konsep diri perempuan. Bahkan dalam jangka panjang bisa memicu stres psikologis dan tekanan emosional," tutupnya.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Pramono-Sri Mulyani Mau Sambungkan Lapangan Banteng & Gedung Maramis"
(mjy/mjy)