Jangan Anggap Sepele, Pelecehan Seksual Verbal Sering Tidak Disadari

Jangan Anggap Sepele, Pelecehan Seksual Verbal Sering Tidak Disadari

Anastasia Trifena - detikJatim
Kamis, 16 Apr 2026 13:00 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual
ilustrasi pelecehan seksualFoto: iStockphoto
Surabaya -

Pelecehan seksual kerap dipahami sebagai tindakan fisik, padahal bentuknya bisa jauh lebih halus dan sering luput dari perhatian. Ucapan bernuansa seksual, candaan yang merendahkan, hingga komentar tentang tubuh kerap dianggap biasa, meski sebenarnya bisa melukai dan membuat tidak nyaman.

Di era digital, praktik ini bahkan semakin mudah terjadi dan tersebar, baik dalam percakapan langsung maupun melalui media sosial. Sayangnya, banyak orang masih belum menyadari bahwa kata-kata pun bisa menjadi bentuk pelecehan. Karena itu, penting untuk mengenali ciri dan bentuk pelecehan seksual verbal agar tidak terus dinormalisasi.

Seperti kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), yang terjadi dalam sebuah grup percakapan. Peristiwa ini kembali menyoroti bahwa pelecehan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga bisa berlangsung di ruang digital yang kerap dianggap "aman".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena tersebut membuka mata banyak pihak bahwa bentuk pelecehan seksual terus berkembang, termasuk dalam wujud verbal maupun melalui media daring. Ucapan bernada seksual, candaan yang merendahkan, hingga penyebaran konten tanpa persetujuan menjadi bagian dari kekerasan yang sering kali tidak disadari atau bahkan dinormalisasi.

Di era serba digital, batas antara ruang privat dan publik semakin tipis. Karena itu, penting untuk memahami berbagai jenis pelecehan seksual, khususnya yang terjadi secara verbal dan di dunia maya, agar dapat dikenali sejak dini serta dicegah sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Pelecehan Seksual Verbal?

Pelecehan seksual verbal merupakan bentuk kekerasan yang dilakukan melalui ucapan, komentar, atau candaan bernuansa seksual. Contohnya melansir dari laman Universitas Negeri Surabaya, yakni komentar tentang tubuh, ejekan cabul, hingga "pujian" yang membuat pembacanya tidak nyaman. Sayangnya, perilaku ini kerap dinormalisasi dengan dalig sekadar bercanda.

Padahal tanpa persetujuan, ucapan tersebut tetap termasuk pelecehan karena melanggar batas pribadi seseorang. Banyak korban memilih diam karena takut dianggap berlebihan atau tidak bisa menerima candaan. Berikut adalah ciri pelecehan verbal selengkapnya.

  • Komentar tentang tubuh seseorang (misalnya bentuk badan, bagian tubuh tertentu) yang bernuansa seksual
  • Candaan cabul atau "jokes" yang mengarah ke hal seksual dan membuat tidak nyaman
  • Siulan, panggilan, atau seruan bernada menggoda (catcalling)
  • Ucapan yang mengandung rayuan seksual meski sudah jelas tidak diinginkan
  • Pertanyaan atau komentar yang terlalu pribadi terkait kehidupan seksual seseorang
  • Menggoda secara verbal terus-menerus meski korban menunjukkan ketidaknyamanan
  • Menggunakan kata-kata vulgar atau istilah seksual dalam percakapan tanpa persetujuan
  • "Pujian" yang sebenarnya merendahkan atau mengobjektifikasi (misalnya fokus ke tubuh, bukan pribadi)

Apa Bedanya dengan Pelecehan Seksual di Dunia Maya?

Pelecehan seksual verbal dan pelecehan di dunia maya sering kali saling berkaitan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama. Pelecehan verbal merujuk pada bentuk tindakan, yaitu ucapan atau kata-kata bernuansa seksual yang merendahkan atau membuat tidak nyaman.

Sementara itu, pelecehan di dunia maya merujuk pada media atau tempat terjadinya, yakni melalui platform digital seperti chat, media sosial, atau grup percakapan.

Artinya, pelecehan verbal bisa saja terjadi di dunia maya, tetapi pelecehan di dunia maya tidak selalu berbentuk verbal. Bisa juga berupa pengiriman gambar, video, atau konten tanpa persetujuan.

Dengan kata lain, pelecehan verbal adalah "apa yang dilakukan", sedangkan pelecehan di dunia maya adalah "di mana itu terjadi".

Dalam kasus pelecehan yang melibatkan mahasiswa FH UI, tindakan yang terjadi dapat dikategorikan sebagai keduanya. Isi percakapan yang mengandung candaan cabul atau ucapan bernuansa seksual termasuk pelecehan verbal, sedangkan fakta bahwa hal tersebut terjadi di dalam grup chat menjadikannya juga sebagai pelecehan di dunia maya.

Artinya, satu peristiwa bisa masuk ke dua kategori sekaligus. Karena itu, penting untuk tidak hanya melihat "tempatnya" saja, tetapi juga "bentuk perilakunya", agar pelecehan dalam bentuk apa pun, termasuk yang sering dianggap sepele di ruang digital dapat dikenali dan ditindak dengan tepat.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads