Lapangan Merdeka Medan yang adavdi Kesawan, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara, bukan sekadar ruang terbuka hijau di tengah kota. Kawasan ini menyimpan jejak panjang sejarah yang mencerminkan dinamika sosial, politik, hingga ekonomi Kota Medan dari masa ke masa.
Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara, Kiki Maulana Affandi, menjelaskan bahwa lapangan ini telah mengalami berbagai perubahan nama dan fungsi sejak abad ke-19. Pada masa kolonial Belanda, kawasan ini dikenal sebagai Lapangan Esplanade, yang awalnya merupakan lahan perkebunan tembakau milik planter Jacobus Nienhuys sejak 1863.
"Sejak awal, kawasan Esplanade memang dirancang sebagai pusat aktivitas kota. Di sekelilingnya berdiri berbagai bangunan penting yang mendukung industri perkebunan dan pemerintahan," jelasnya.
Bangunan-bangunan tersebut di antaranya Kantor Pos, Stasiun Kereta Api, hingga gedung-gedung perbankan dan pemerintahan kolonial. Lapangan ini juga ditanami pepohonan dan sempat memiliki Monumen Tamiang sebagai penanda berakhirnya konflik Perang Tamiang pada masa itu.
Memasuki awal abad ke-20, fungsi Lapangan Esplanade mulai berkembang menjadi ruang publik. Pada rentang 1905 hingga 1910-an, kawasan ini menjadi pusat hiburan masyarakat dengan hadirnya tenda-tenda pertunjukan bioskop sebelum gedung bioskop permanen dibangun. Selain itu, pasar malam juga kerap digelar dan menarik perhatian warga kota.
Saat pendudukan Jepang, nama lapangan ini berubah menjadi Fukuraido. Fungsinya pun bergeser menjadi tempat berkumpul sekaligus lokasi kampanye program-program pemerintah Jepang, termasuk orasi tokoh-tokoh politik di wilayah Medan dan Sumatera Timur.
"Pasca kemerdekaan Indonesia, lapangan ini memiliki peran penting dalam penyebaran informasi proklamasi. Setelah proklamasi pertama kali dikumandangkan di Perguruan Taman Siswa pada 30 September 1945, Lapangan Merdeka menjadi lokasi rapat raksasa pada 6 Oktober 1945 untuk menyebarluaskan kabar kemerdekaan kepada masyarakat luas di Medan dan Sumatera Utara. Momentum itu menjadi titik penting yang menguatkan posisi lapangan ini sebagai ruang publik sekaligus simbol kebangkitan masyarakat," kata Kiki.
"Kini, Lapangan Merdeka Medan tetap menjadi pusat aktivitas warga. Setiap akhir pekan, terutama saat car free day, kawasan ini dipadati masyarakat yang berolahraga hingga bersantai bersama keluarga," tambahnya.
Simak Video "Menggali Olahan Durian di Durian House Medan"
(astj/astj)