Sejarah Kereta Api di Medan, Berawal dari Tembakau Deli Era Kolonial

Sejarah Kereta Api di Medan, Berawal dari Tembakau Deli Era Kolonial

Nanda Marbun - detikSumut
Rabu, 29 Apr 2026 12:01 WIB
Penampakan overpass di Jalan Stasiun Kereta Api, Medan. (Dok. Istimewa)
Foto: Penampakan overpass di Jalan Stasiun Kereta Api, Medan. (Dok. Istimewa)
Medan -

Ada banyak jejak peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda yang masih berdiri dan digunakan hingga kini di Kota Medan. Salah satu yang paling bersejarah adalah Stasiun Kereta Api Medan yang berada persis di depan Lapangan Merdeka.

Pemerintah Belanda saat itu membangun transportasi kereta api untuk mengangkut komoditas tembakau Deli yang menjadi andalan ekspor pada masa itu. Pembangunan jalur kereta api menjadi solusi logistik untuk mempercepat distribusi hasil perkebunan dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan.

"Transportasi kereta api di Medan itu pada dasarnya lahir dari kebutuhan ekonomi kolonial. Komoditas utama saat itu adalah tembakau Deli, sehingga diperlukan sarana distribusi yang cepat dan efisien dari perkebunan menuju pelabuhan. Dari situlah kemudian dibangun jalur rel yang menghubungkan titik-titik produksi," kata Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), Kiki Maulana Affandi, Rabu (29/04/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembangunan rel kereta api di Medan, kata dia, dimulai pada tahun 1883, seiring berkembangnya industri perkebunan tembakau di wilayah Deli. Ia menambahkan, pada tahap awal jalur kereta api menghubungkan Medan, Labuhan Deli, hingga Deli Tua dengan panjang sekitar 53 kilometer. Jalur ini menjadi fondasi awal berkembangnya jaringan rel di Sumatera Timur.

Menurutnya, pembangunan tersebut tidak terlepas dari peran perusahaan perkebunan besar yang kemudian melahirkan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), sebuah perusahaan kereta api swasta yang menjadi salah satu yang terbesar di luar Pulau Jawa.

ADVERTISEMENT

"Deli Spoorweg Maatschappij ini dikelola oleh para pengusaha perkebunan yang memiliki kepentingan langsung terhadap distribusi hasil produksi mereka. Jadi memang sejak awal orientasinya adalah ekonomi, bukan pelayanan publik seperti sekarang,"ungkapnya.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan industri tembakau, jaringan rel kereta api juga terus diperluas. Pada tahun 1937, panjang jalur kereta api di wilayah ini telah mencapai sekitar 553 kilometer dan menghubungkan berbagai kota penting di Sumatera Utara.

"Kalau kita lihat perkembangannya, jalur ini tidak hanya menghubungkan Medan saja, tapi juga meluas ke Binjai, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Kisaran, sampai Rantau Prapat. Ini menunjukkan bagaimana kereta api menjadi tulang punggung distribusi ekonomi di kawasan pantai timur Sumatera,"tambahnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Menurut jurnal berjudul 'History of Railways Medan (1886-1942)' yang terbit tahun 2018 oleh akademisi Universitas Riau, Haston Ranap Erwin, Ridwan Melay dan Bunari, pembangunan jalur ini juga berkaitan erat dengan perkembangan perusahaan perkebunan seperti Deli Maatschappij yang berdiri sejak 1866. Bahkan, dorongan pembangunan rel kereta api juga datang dari manajemen perusahaan yang melihat pesatnya pertumbuhan bisnis tembakau saat itu.

Pada Juni 1883, proyek perkebunan Belanda dialihkan dari Deli Maatschappij kepada DSM. Di tahun yang sama, pembangunan jalur rel mulai direalisasikan, termasuk jalur Medan-Labuhan yang resmi beroperasi pada 25 Juli 1886. Selanjutnya, pemerintah kolonial membuka cabang jalur ke berbagai wilayah seperti Serdang, Perbaungan, hingga Serdang Hulu, dengan total jaringan mencapai 63 mil yang selesai pada 1889.

"Ketika perkebunan mulai dibuka ke arah selatan, maka jalur kereta api juga ikut mengikuti arah ekspansi tersebut. Artinya, rel kereta itu benar-benar mengikuti kebutuhan industri perkebunan,"terang Kiki.

Ia menegaskan bahwa keberadaan kereta api pada masa itu bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga simbol modernitas yang turut membentuk perkembangan Kota Medan.

"Kereta api itu menjadi bagian dari modernisasi kota. Ia bukan hanya mengangkut barang, tapi juga menghubungkan wilayah, membentuk pusat-pusat ekonomi baru, dan secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan kota Medan hingga seperti sekarang,"ujarnya.

Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih dapat dirasakan. Sebagian besar jalur rel dan stasiun yang masih aktif di Sumatera Utara (Sumut) yang merupakan peninggalan masa Hindia Belanda dan tetap dimanfaatkan sebagai sarana transportasi utama masyarakat.

Dengan demikian, sejarah kereta api di Medan tidak hanya berbicara soal transportasi, tetapi juga tentang bagaimana infrastruktur kolonial membentuk wajah ekonomi dan tata ruang kota yang masih bertahan hingga saat ini.

Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Pramono: Transjakarta Peringkat 17 Infrastruktur Terbaik Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads