Di bangku sekolah dasar, biasanya tulisan tegak bersambung menjadi bagian dari pembelajaran awal literasi. Anak-anak diperkenalkan cara menyambung huruf demi huruf secara rapi sebagai dasar keterampilan menulis sekaligus membaca.
Meski kini mulai jarang digunakan di beberapa sekolah, metode ini dinilai tetap memiliki peran penting dalam menunjang perkembangan anak.
Dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli, menjelaskan bahwa menulis tegak bersambung berkaitan erat dengan perkembangan motorik halus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menulis tegak bersambung sangat berpengaruh terhadap perkembangan motorik halus anak. Hal ini disebabkan karena pada saat seseorang menulis, akan melibatkan aktivitas visual motorik sehingga semakin banyak area otak yang dirangsang," ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, kebiasaan menulis juga membantu anak dalam proses membaca. Anak yang terbiasa menulis huruf bersambung akan lebih mudah mengenali bentuk huruf saat membaca.
"Dengan menulis halus anak akan lebih terlatih untuk membaca huruf bersambung sehingga lebih memudahkan pada saat belajar membaca," katanya.
Tak hanya itu, latihan menulis tegak bersambung juga berdampak pada kemampuan kognitif anak. Irna menyebut, aktivitas menulis mampu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat karena otak bekerja menahan dan memproses informasi.
"Pada saat menulis otak akan melakukan retention, menahan informasi yang masuk ke dalam otak untuk diproses terlebih dahulu. Itu sebabnya belajar dengan menuliskan apa yang dipelajari akan lebih melekat dalam ingatan jangka panjang seseorang," jelasnya.
Dalam praktiknya, kemampuan menulis tidak bisa diajarkan secara instan. Irna menekankan pentingnya tahapan yang sesuai dengan perkembangan anak.
Latihan bisa dimulai dari hal sederhana seperti menggenggam pensil, meronce, hingga permainan yang melatih koordinasi tangan. Kegiatan seperti memasukkan benda ke dalam wadah, dari ukuran besar hingga kecil, juga dapat membantu melatih motorik halus anak.
"Untuk melatih kemampuan menulis anak sebaiknya dilakukan secara bertahap. Misalnya dengan mengajarkan anak menggenggam pensil atau benda lainnya, kemudian melatih anak untuk meronce serta kegiatan lain yang merangsang perkembangan motorik halus seperti menggunakan sumpit," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar orangtua tidak memaksakan anak belajar terlalu dini. Sebab, ketidaksiapan motorik halus dapat memicu rasa frustrasi pada anak. Dalam proses belajar, anak perlu memiliki rasa percaya diri terhadap kemampuannya.
"Pengajaran yang terlalu dini mungkin dapat membuat anak merasa frustrasi ketika dia tidak mampu mengerjakan tugas karena kematangan motorik halus belum berkembang. Padahal dalam proses belajar, anak perlu mengembangkan 'self-efficacy', perasaan mampu mengerjakan suatu tugas," tutur Irna.
Karena itu, orangtua disarankan memahami tahapan perkembangan anak dan menggabungkan proses belajar dengan aktivitas bermain. Dengan cara ini, anak akan membangun asosiasi positif terhadap kegiatan belajar.
Menurut Irna, pendekatan belajar sambil bermain tidak hanya membuat anak lebih senang, tetapi juga membantu mengoptimalkan perkembangan motorik halus dan kasar secara bersamaan.
"Dengan belajar sambil bermain maka anak akan memiliki asosiasi yang positif antara belajar dengan kegiatan yang menyenangkan," pungkasnya.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































