Pernah Jadi Korban Eksibisionis? Psikolog Ungkap Cara Meresponsnya

Pernah Jadi Korban Eksibisionis? Psikolog Ungkap Cara Meresponsnya

Rindi - detikSumut
Kamis, 09 Apr 2026 07:00 WIB
Self defense, studio portrait of scared woman raising hands up in defense
Foto: Getty Images/iStockphoto/triocean
Medan -

Sebagian masyarakat mungkin pernah menjadi korban dari eksibisionis atau orang yang suka memperlihatkan alat kelamin ke orang asing. Jika itu terjadi kepada Anda, maka cara meresponsnya adalah tetap tenang, tidak berteriak dan acuh.

Psikolog Klinis, Sairah, mulanya menyebut eksibisionis sebagai gangguan mental yang merujuk pada penyimpangan seksual. Sairah menjelaskan bahwa pengidap gangguan eksibisionis ini ditandai dengan keinginan kuat untuk memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain.

"Eksibisionisme dalam psikologi masuk dalam bagian gangguan mental. Kalau di DSM-5 itu ada panduan khusus untuk gangguan mental secara psikologis, itu masuknya di exhibitionistic disorder atau di gangguan parafilik. Itu terkait masalah penyimpangan seksual atau gangguan di dalam penyimpangan seksualnya," ujarnya, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ciri utamanya yaitu yang pertama adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang kuat untuk memperlihatkan alat kelamin kepada orang lain. Biasanya kepada orang asing. Karena begitu dia menunjukkan itu alat kelaminnya, dia mendapatkan kepuasan dari ketika orang yang melihat itu histeris, berteriak, bahkan ketakutan. Itu kepuasan tersendiri bagi si pelaku. Kemudian tentunya itu dilakukan dengan tanpa persetujuan korban. Artinya langsung ditunjukkan biasanya di pinggir jalan seperti itu atau di tempat-tempat umum," lanjut dia.

ADVERTISEMENT

Pelaku eksebisionis, kata dia, biasanya kesulitan dalam relasi interpersonal dan kejadian traumatic. Kondisi itu membuat pelaku memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Adanya paparan konten seksual sejak dini juga dapat menjadi penyebabnya. Sairah menyebut bahwa pelaku biasanya juga berawal dari korban yang melakukan eksplorasi dan menemukan kepuasan seksual dengan cara yang sama.

"Mungkin ada traumatik, paparan seksual yang tidak tepat sejak dini misalkan. Misalnya dia juga pernah mendapatkan perlakuan dulunya korban kemudian dari situ dia mulai explore dan pengen tahu, namanya anak-anak ini kan. Kemudian dia tidak mendapatkan pemahaman yang tepat lalu mendapatkan sensasi-sensasi seksualnya dengan cara yang sama seperti pelaku," lanjutnya.


Cara Merespons Pelaku Eksebisionis

Sairah mengungkapkan bahwa reaksi takut dari korban dapat membuat pelaku eksibisionis akan merasa lebih percaya diri. Biasanya gangguan mental Eksibisionis ini lebih cenderung dialami oleh laki-laki.

"Ketika sekali dia mencoba dan dia mendapatkan kenikmatan, dan di situlah menjadi adanya repeat. Kemudian ada pola reinforcement atau penguat bahwa dengan adanya reaksi korban tadi kaget, takut, akan menjadi reward untuk dirinya. Di situlah akan terus memperkuat bahwa perilaku, menunjukkan bahwa aku ini adalah orang percaya diri, kemudian akan mendapatkan pusat perhatian. Nah, ini memang lebih banyak cenderung pada laki-laki. Kemudian tentu ada kontrol impuls di dalam dirinya yang sangat-sangat rendah dan sehingga sulit mengontrolnya sehingga itu tadi keluar begitu saja. Impulsif saat kondisi-kondisi ramai, situasi-situasi yang banyak orang asing," jelasnya.

Sairah menyebut korban eksibisionis ini biasanya akan ketakutan yang justru membuat pelaku mendapatkan kepuasan. Sehingga respons yang tepat adalah berusaha untuk tetap tenang.

"Reaksi korban biasanya rata-rata kan berteriak, ketakutan, menjerit, di situlah pelaku mendapatkan kepuasan. Jadi baiknya ketika ada kejadian yang seperti itu, baiknya kita tidak perlu menghiraukan, mencoba acuh, tetap tenang sebisa mungkin," ujarnya.

Selanjutnya bisa menghubungi orang terdekat dan meminta bantuan orang lain. Jika dirasa berbahaya maka dapat melaporkan ke pihak yang berwenang.

"Walaupun ini kayaknya memang nggak bisa kita pungkiri ada reaksi takut atau panik. Mencoba untuk tetap tenang, bahkan juga bisa langsung berkabar kepada orang lain ya untuk speak up bantu, minta bantuan orang lain. Kemudian mungkin kalau memang terasa agak bahaya, maka bisa segera melaporkan kepada pihak-pihak tertentu jika memungkinkan," tutupnya.

Artikel ditulis Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Promosi Film 'Aku Harus Mati' Dinilai Bisa Picu Risiko Psikologis"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads