Di balik aroma khas Kopi Mandailing yang hari ini dikenal hingga pasar internasional tersimpan sejarah panjang. Kopi Mandailing ada salah satunya karena kebijakan kolonial Belanda di tanah Sumatera.
Di masa lampau, kopi bukan sekadar komoditas melainkan bagian dari jejak sejarah yang membentuk kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Mandailing sejak abad ke-19. Masuknya kopi ke wilayah Mandailing berkaitan erat dengan ekspansi kolonial Belanda ke kawasan Tapanuli pada awal abad ke-19.
Dalam upaya memperkuat ekonomi kolonial, pemerintah Belanda menjadikan kopi sebagai komoditas utama yang diarahkan untuk kebutuhan ekspor ke pasar global.
Dalam kajiannya, Guru Besar USU, Budi Agustono, menjelaskan bahwa pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam wajib yang mengharuskan masyarakat lokal menanam kopi dan menyerahkan hasilnya kepada pemerintah.
"Pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem tanam wajib yang memaksa masyarakat Mandailing menanam dan menyerahkan hasil kopi kepada pemerintah," tuturnya.
Menurut Budi Agustono, sistem tersebut menjadi bagian dari kebijakan ekonomi kolonial yang menempatkan masyarakat sebagai alat produksi.
"Ekonomi masyarakat di wilayah Tapanuli pada masa itu berada dalam kendali penuh pemerintah kolonial," lanjutnya.
Kontrol tersebut tidak hanya berlaku pada hasil produksi, tetapi juga pada tenaga kerja yang digunakan dalam proses distribusi kopi. Beban yang ditanggung masyarakat pun tidak ringan.
Simak Video "Video Badan Perdagangan PBB Nilai Tarif Trump Berdampak Negatif ke AS"
(astj/astj)