Fenomena Post Holiday Blues belakangan banyak dibicarakan pasca libur panjang lebaran. Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Begini penjelasan psikolog.
Ahli Psikologi Klinis, Sairah menjelaskan bahwa fenomena Post Holiday Blues adalah perasaan sedih yang muncul setelah libur berakhir. Fenomena ini rentan menimpa seseorang dengan tingkat stres yang tinggi.
"Fenomena Post-Holiday Blues atau perasaan sedih, cemas, atau lelah yang muncul setelah masa liburan usai. Yang rentan mengalami tentu individu yang tingkat stres kerjanya tinggi atau stres di sekolahnya juga tingkatnya itu tinggi kategorisasinya," jelasnya saat diwawancarai detikSumut, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sairah menjelaskan penyebab munculnya Post Holiday Blues ini bisa karena perubahan rutinitas yang drastis. Suasana liburan yang santai bisa memicu stres saat harus kembali bekerja atau beraktivitas seperti biasa.
"Pertama karena adanya perubahan rutinitas yang drastis. Selama liburan, kita kan terbiasa dengan jadwal yang santai, menyenangkan, tanpa beban pekerjaan atau tugas-tugas harian yang menumpuk. Begitu liburan berakhir, kita harus kembali ke realita rutinitas yang padat dan terkadang membosankan. Nah, transisi inilah yang sering kali memicu rasa stres dan ketidaknyamanan emosional," jelasnya.
Kemudian, karena penurunan hormon dopamin. Hormon dopamin yang meningkat saat liburan karena aktivitas menyenangkan biasanya akan turun saat liburan berakhir.
"Kedua, adanya penurunan hormon dopamin. Selama liburan, tubuh kita banyak melepaskan hormon dopamin karena banyaknya aktivitas yang menyenangkan. Saat liburan berakhir, kadar dopamin ini menurun secara tiba-tiba, yang kemudian membuat kita merasa hampa atau kurang bersemangat," lanjutnya.
Sairah juga menjelaskan kelelahan fisik dan finansial juga bisa menjadi pemicu adanya Post Holiday Blues. Selain itu perjalanan jauh dan kurang tidur juga bisa meningkatkan resiko tersebut.
"Ketiga, faktor kelelahan fisik dan finansial. Perjalanan jauh, kurang tidur selama liburan, hingga pengeluaran yang mungkin membengkak saat masa libur, itu juga bisa menjadi beban pikiran yang memicu Post-Holiday Blues," ujarnya.
Untuk mengatasinya, Sairah menyarankan untuk melakukan transisi aktivitas perlahan, menjaga pola makan yang sehat, dan menetapkan target pencapaian yang baru.
"Untuk mengatasinya, penting bagi kita untuk melakukan transisi secara perlahan. Jangan langsung memaksakan diri bekerja dengan intensitas tinggi di hari pertama kembali. Luangkan waktu untuk istirahat yang cukup, tetap menjaga pola makan yang sehat, dan mungkin mulai merencanakan aktivitas kecil yang menyenangkan di sela-sela kesibukan rutinitas kembali, menetapkan target dan fokus terhadap hal baru yang ingin dicapai," tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)











































