Perang Timur Tengah Bikin Subsidi BBM Malaysia Bengkak 4 Kali Lipat

Internasional

Perang Timur Tengah Bikin Subsidi BBM Malaysia Bengkak 4 Kali Lipat

Retno Ayuningrum - detikSumut
Kamis, 26 Mar 2026 09:35 WIB
Perang Timur Tengah Bikin Subsidi BBM Malaysia Bengkak 4 Kali Lipat
Foto: PM Malaysia Anwar Ibrahim. (AFP/DAVID GRAY)
Jakarta -

Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran berimbas terhadap kenaikan harga minyak global. Di Malaysia, beban subsidi bahan bakar melonjak lebih dari empat kali lipat dalam waktu kurang dari seminggu.

Dilansir detikFinance, Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyampaikan subsidi bulanan nasional untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 95 dan solar telah naik menjadi 3,2 miliar ringgit atau setara US$ 810,9 juta (Rp 13,6 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.869) dari 700 juta ringgit atau setara US$ 177,4 juta (Rp 2,9 triliun).

Kenaikan harga minyak dunia terjadi akibat terganggunya jalur Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi yang dilewati 20% pasokan minyak dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam waktu kurang dari seminggu, harga minyak global melonjak dari sekitar US$ 70 menjadi hampir US$ 120 per barel," ujar Anwar dikutip dari South China Morning Post, Kamis (25/3/2026).

Malaysia tetap bergantung pada impor meski menjadi negara penghasil minyak, di mana hampir separuh pasokannya didatangkan melalui rute yang terdampak konflik tersebut. Berdasarkan data tahun lalu, Malaysia mengekspor minyak senilai US$ 5,5 miliar.

ADVERTISEMENT

Namun, harus mengimpor hingga US$ 12,6 miliar. Artinya, ada tekor atau defisit lebih dari US$ 7 miliar.

"Malaysia memang menghasilkan minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak minyak daripada yang kita ekspor," tambah Anwar.

Anwar menjelaskan, bahwa minyak mentah yang diimpor tidak bisa langsung dipakai. Ada biaya penyulingan, transportasi, hingga asuransi yang semuanya ikut meroket saat perang pecah.

Kenaikan harga minyak dunia tentu mengancam biaya transportasi, harga pangan, hingga pengeluaran rumah tangga warga Malaysia.

Pemerintah Malaysia pun telah menaikkan subsidi agar masyarakatnya tidak menanggung beban penuh dari kenaikan harga global tersebut. Anwar optimistis situasi tersebut dapat dilewati, mengingat pernah berhasil mengatasi badai serupa sebelumnya.

"Di masa-masa sulit ini, Malaysia memilih untuk menyerap sebagian dari tekanan biaya global demi melindungi rakyat," jelas Anwar.

Artikel ini telah tayang di detikFinance, baca selengkapnya di sini




(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads