Sejarah Rumah Pasanggrahan di Karo, Tempat Sukarno-Agus Salim Diasingkan

Sejarah Rumah Pasanggrahan di Karo, Tempat Sukarno-Agus Salim Diasingkan

A. Fahri - detikSumut
Senin, 09 Mar 2026 12:30 WIB
Rumah pengasingan Berastagi (Sumber: detiktravel)
Foto: Rumah pengasingan Berastagi (Sumber: detiktravel)
Karo -

Sebuah rumah tua bergaya kolonial di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyimpan jejak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini pernah menjadi tempat pengasingan tiga tokoh nasional, yakni Sukarno, Haji Agus Salim, dan Sutan Sjahrir pada masa revolusi kemerdekaan.

Dalam unggahan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, disebutkan bahwa rumah tersebut memiliki nilai penting dalam sejarah republik.

"Rumah ini memiliki nilai penting bagi Republik Indonesia. Tahun 1948 Sukarno, Agus Salim dan Sjahrir pernah diasingkan dan ditempatkan di rumah ini oleh Belanda," tulis BPK Wilayah II dikutip Senin (9/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya Rumah Peristirahatan Pegawai Kolonial

Bangunan tersebut sebenarnya telah berdiri sejak awal abad ke-20, seiring berkembangnya perkebunan di pesisir timur Sumatra. Pada masa itu wilayah Berastagi mulai dikenal sebagai kawasan peristirahatan bagi pejabat kolonial Belanda karena udara dataran tingginya yang sejuk.

"Rumah pengasingan Sukarno ini awalnya merupakan rumah peristirahatan yang dikenal dengan nama Pasanggrahan di Desa Lau Gumba. Nama Pasanggrahan diserap dan dipakai Belanda untuk menunjuk rumah peristirahatan yang berada di tempat-tempat pakansi yang berhawa sejuk seperti Brastagi," tulis BPK Wilayah II.

ADVERTISEMENT

Dalam catatan sejarah yang dikutip BPK Wilayah II dari buku Karo Batak: The People and Their Culture, kawasan Brastagi mulai berkembang sebagai daerah vila dan tempat peristirahatan pada awal 1900-an.

"Perusahaan-perusahaan perkebunan di Deli mulai mendirikan vila di Brastagi sejak tahun 1907," tulis BPK Wilayah II mengutip sumber tersebut.

Tempat Pengasingan Tokoh Republik

Pada masa revolusi kemerdekaan, fungsi bangunan ini berubah. Tahun 1948 rumah tersebut digunakan Belanda untuk menempatkan sejumlah tokoh penting Republik Indonesia.

"Di Berastagi, Sukarno, Agus Salim dan Syahrir ditempatkan di rumah peristirahatan yang dikenal dengan nama Pasanggrahan," tulis BPK Wilayah II.

Peristiwa ini menjadi bagian dari dinamika politik nasional pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Belanda.

"Cerita tentang pengasingan tiga tokoh Republik ini menautkan dinamika nasional dengan dua kota di Sumatera Utara, Brastagi dan Parapat," tulis BPK Wilayah II.

Arsitektur Kolonial Bergaya Tropis

Dari segi arsitektur, bangunan ini memiliki karakter rumah kolonial yang menyesuaikan dengan kondisi iklim tropis.

"Bangunan ini didirikan dengan karakteristik arsitektur kolonial bergaya tropis, ditandai dengan atap miring lebar, bukaan jendela besar, serta tata ruang yang sederhana namun fungsional," tulis BPK Wilayah II.

Struktur bangunannya menggunakan kombinasi dinding batu bata dan kayu dengan atap genteng. Beberapa bagian bangunan kini telah mengalami kerusakan akibat usia serta perubahan material pada beberapa bagian interior.

Kini Berstatus Cagar Budaya Nasional

Kini rumah pengasingan tersebut telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional oleh pemerintah melalui keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2024.

"Pasanggrahan Berastagi bekas rumah pengasingan Sukarno kini menjadi situs Cagar Budaya Nasional dengan nomor SK CBN: 432/M/2024," tulis BPK Wilayah II.

Penetapan ini diharapkan dapat menjaga keberadaan bangunan tersebut sebagai bagian dari memori sejarah bangsa.

Rumah pengasingan di Berastagi bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan tiga tokoh penting Indonesia dalam masa revolusi yang penuh gejolak.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Viral Kepala Patung Sukarno di Indramayu Miring, Ini Penyebabnya"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads