Berbagi dengan sesama tidak harus menunggu menjadi kaya atau sultan. Memahami sedekah versi anak muda.
"Teman-teman detikers yang dirahmati Allah SWT, salah satu amalan di bulan Ramadan memang ya adalah sedekah, berbagi, itu memang perintah Allah dalam Al-quran," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution dalam Program Kultum Ramadan, Rabu (4/3/2026).
Perintah Allah SWT untuk bersedekah salah satunya ada di Surah Al-Munafiqun ayat 10. Namun mindset dalam bersedekah harus diluruskan, sebab tidak sama dengan matematika manusia.
"Tapi ada mindset yang harus kita luruskan, kadang-kadang kita merasa bahwa kita ini harus banyak duit dulu baru kita sedekah, itu yang salah. Sebenarnya terminologi sedekah itu adalah satu matematikanya beda dengan matematika manusia, kalau matematika manusia 10-3=7, tapi matematika sedekah best on rezeki misalnya 10-3 itu sama dengan 3, kalau kita punya harta 10 terus kita keluarkan 3 di jalan infak dan sedekah, justru yang 3 itu yang menjadi abadi amaliah kita," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seseorang juga dinilai merugi jika tidak memiliki mindset bersedekah. Untuk nominal sedekah, sedekah Rp 5 ribu dari uang Rp 20 ribu akan lebih dinilai banyak dibandingkan memberikan uang Rp 5 ribu dari total uang Rp 100 miliar milik kita.
"Berapa nominalnya? Nominalnya adalah berapa yang anda punya, jadi kira-kira begini, untuk uang Rp 5 ribu akan banyak menjadi sedekah kalau misalnya uang anda Rp 20 ribu, tapi uang Rp 5 ribu akan sangat sedikit kalau uang anda Rp 100 miliar. Jadi bukan harus menjadi anak sultan dulu baru anda menjadi orang yang suka bersedekah, karena khawatirnya anda tidak jadi sultan juga kan, tiba-tiba sudah meninggal aja," sebutnya.
Seseorang akan sulit bersedekah karena feedback nya tidak jelas. Padahal sejati nya, dermawan disebut amalan yang paling baik meskipun dilakukan oleh orang yang tidak baik.
"Kedua, kenapa orang sulit sedekah? Karena sedekah itu feedback nya tidak jelas. Kita selalu merasa kalau kita bersedekah harta kita justru yang kurang, nah ini coba dijawab-jawab secara batiniah. Saya mau mengajak kita untuk membangun artikulasi yang positif, kenapa nggak harus menjadi anak sultan dulu baru kita menjadi orang yang bersedekah? Karena sedekah itu sensitifitas nya sangat banyak. Saya kasih tahu begini, dermawan itu adalah amalan paling baik meskipun dikerjakan oleh orang yang tidak baik," ucapnya.
"Misalnya seorang pencopet ia dermawan misalnya, mohon maaf ini ya, walaupun itu salah. Tapi setidaknya apa yang dia sedekahkan bermanfaat bagi orang, pelit itu amalan yang paling jelek, walaupun diamalkan oleh orang yang paling baik. Misalnya ada orang yang ahli agama terus dia pelit ya tetap tidak baik juga pelit itu," imbuhnya.
Oleh karena itu, Prof Syukri Albani mengajak detikers untuk terus berbagi dengan sesama tanpa harus menunggu menjadi sultan. Semoga amal sedekah menjadi penyempurna di tengah amal ritual kita yang belum sempurna.
"Maka oleh karena itu teman-teman, saya sih mau ajak gini, membangun sensitifitas sosialnya, ngomongnya begini ya kalau dengan uang Rp 2 ribu ada orang yang merasa gembira, uang Rp 5 ribu merasa orang bahagia, saya hanya mampunya di situ, maka jadikanlah amal sedekah itu menjadi giroh perjalanan hidup yang nggak pernah putus dalam perjalanan hidup kita. Semoga di tengah-tengah amal ritual kita yang belum sempurna, Allah sempurnakan amal dan nilai amal kita justru ketika kita bersedekah, berinfak dan berbagi," tuturnya.
(afb/afb)











































