Melatih kesabaran di bulan suci Ramadan adalah sebuah keharusan. Selama sebulan penuh, keimanan dan ketakwaan manusia akan diuji.
Menjalankan ibadah dalam keadaan menahan haus dan lapar sering kali berpengaruh pada kestabilan emosi seseorang.
Terkadang, ada situasi atau gesekan sehari-hari yang memancing emosi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Puasa adalah setengah dari kesabaran." (HR. Tirmidzi).
Lantas, bagaimana jika kita terpancing emosi dan marah-marah saat sedang berpuasa? Apakah marah-marah membatalkan puasa? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
2 Jenis Batal Puasa dalam Islam
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, detikers perlu memahami bahwa "batal puasa" dapat dikategorikan ke dalam dua jenis:
- Batal Puasa Secara Fikih
Perkara yang membatalkan sahnya puasa secara fisik, seperti makan, minum, atau memasukkan benda ke dalam lubang tubuh secara sengaja. - Batal Pahala Puasa
Perkara yang menghapus atau membatalkan pahala ibadah puasa, meskipun secara fisik puasanya tetap sah. Pahala puasa bisa batal disebabkan oleh perbuatan buruk seperti iri, dengki, berdusta, ghibah, fitnah, dan marah-marah.
Jadi, marah-marah tidak membatalkan puasa. Puasa orang yang marah-marah tetap dihukumi sah dan ia tidak wajib menggantinya (qadha). Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga karena pahalanya telah hangus.
Mengurangi Esensi dan Pahala Puasa
Ketika berpuasa, seseorang dituntut untuk tetap bersabar dan mengendalikan diri. Orang yang mampu menahan amarahnya justru dikategorikan sebagai orang yang kuat.
Hal ini sejalan dengan hadis dari Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
ΩΩΩΩΨ³Ω Ψ§ΩΨ΄ΩΩΨ―ΩΩΨ―Ω Ψ¨ΩΨ§ΩΨ΅ΩΩΨ±ΩΨΉΩΨ©Ω Ψ Ψ₯ΩΩΩΩΩ ΩΨ§ Ψ§ΩΨ΄ΩΩΨ―ΩΩΨ―Ω Ψ§ΩΩΩΨ°ΩΩ ΩΩΩ ΩΩΩΩΩ ΩΩΩΩΨ³ΩΩΩ ΨΉΩΩΩΨ―Ω Ψ§ΩΩΨΊΩΨΆΩΨ¨Ω
Artinya: "Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).
Jika amarah tidak dikendalikan, esensi ibadah puasa akan hilang. Rasulullah SAW juga telah memperingatkan tentang orang yang puasanya berujung sia-sia:
Ψ±ΩΨ¨ΩΩ Ψ΅ΩΨ§ΩΩΩΩ Ω ΨΩΨΈΩΩΩΩ Ω ΩΩΩ Ψ΅ΩΩΩΨ§Ω ΩΩΩ Ψ§ΩΩΨ¬ΩΩΩΨΉΩ ΩΩΨ§ΩΩΨΉΩΨ·ΩΨ΄Ω
Artinya: "Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja." (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, "Hasan Shahih.")
Cara Menahan Amarah Menurut Imam Al-Ghazali
Agar ibadah puasa tetap utuh pahalanya, penting untuk menjaga kestabilan emosi. Syekh Jamaluddin Al Qasimi dalam kitab Mau'ihhah al-Mu'mini min Ihya' Ulum al-Din mengutip anjuran Imam Al-Ghazali mengenai langkah-langkah mengatasi amarah:
- Mengucapkan Ta'awudz
Ucapkanlah dengan lisan, "A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim" (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). - Mengubah Posisi Tubuh
Apabila rasa marah datang saat sedang berdiri, maka duduklah. Jika amarah datang saat sedang duduk, maka tidurlah berbaring (miring). - Mengambil Air Wudu
Disunahkan untuk berwudu dengan air yang dingin. Sesungguhnya kemarahan berasal dari api (setan), dan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.
Dengan mempraktikkan hal-hal di atas, detikers bisa lebih mudah mengendalikan emosi sehingga ibadah puasa di bulan Ramadan membawa keberkahan yang maksimal. Selamat berpuasa!
Simak Video "Video Hasil Hisab Kemenag: 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)











































