Menjelang datangnya bulan suci Ramadan masyarakat Aceh memiliki tradisi khas yang tak pernah ditinggalkan, yakni meugang. Tradisi makan daging bersama ini mencerminkan nilai religius, kebersamaan, dan kekuatan budaya yang hidup di tengah masyarakat Aceh.
Mau tau lebih dalam mengenai meugang, tradisi khas Aceh dalam penyambutan bulan Ramadan, simak selengkapnya!
Tradisi Meugang di Aceh
Dilansir dari Repositori Kemendikdasmen, Majalah Haba No.79/2016 terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh, Makmeugang atau Meugang merupakan tradisi yang telah lama hidup dan berkembang di tengah masyarakat Aceh. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut hari-hari besar dalam agama Islam, seperti menjelang bulan puasa dan perayaan hari raya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pelaksanaannya, meugang identik dengan kegiatan membeli daging, mengolahnya, lalu menyantapnya bersama seluruh anggota keluarga sebagai simbol kebersamaan. Pada hari Meugang, keluarga besar biasanya berkumpul di rumah orang tua. Anggota keluarga yang merantau pun berupaya pulang ke kampung halaman demi merayakan momen ini bersama.
Selain hidangan daging, masyarakat Aceh juga menyiapkan berbagai kue dan makanan tradisional, seperti timphan, ketupat, leumang, dan tape. Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam perayaan Meugang, namun esensinya tetap sama, yakni memasak dan menikmati hidangan secara bersama-sama.
Makna Meugang juga tercermin dalam ungkapan Aceh yang menggambarkan kerinduan anggota keluarga perantauan yang tidak sempat pulang. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Meugang bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi juga memiliki nilai emosional dan kekeluargaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Arti Kata Meugang
Secara bahasa, kata makmeugang berasal dari kata makmue yang berarti makmur. Sedangkan kata gang adalah tempat berjualan di pasar, sehingga pada hari makmeugang ini terdapat kumpulan para penjual daging yang berjualan di gang-gang pasar.
Pada momen ini, masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih juga dianjurkan untuk berbagi dengan fakir miskin dan anak yatim agar mereka turut merasakan kebahagiaan. Tradisi ini melambangkan harapan akan kesejahteraan dan kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang status sosial.
Meugang juga ditandai dengan ramainya aktivitas jual beli daging di pasar-pasar. Para pedagang daging biasanya berjejer di gang-gang pasar dengan lapak sederhana untuk memotong dan menimbang daging.
Aktivitas ini menjadi pemandangan khas yang menandai datangnya hari Meugang, sekaligus memperkuat makna tradisi sebagai hari yang istimewa bagi masyarakat Aceh dalam mensyukuri rezeki selama satu tahun.
Meugang Digelar 3 Kali dalam Setahun
Masyarakat Aceh menjalankan Tradisi makmeugang dalam satu tahun sebanyak tiga kali, yaitu:
1. Menjelang Ramadan
2. Menjelang Hari Raya Idul Fitri
3. Menjelang Hari Raya Idul Adha
Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: POV Cobain Takjil Gratis di Masjid Jakarta Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































