Sebuah penemuan arkeologi spektakuler di Situs Bongal, Desa Jangga Toruan, Tapanuli Tengah, mengungkap sisi lain sejarah Sumatera Utara yang selama ini tersembunyi. Ribuan botol kaca kuno asal Timur Tengah ditemukan terkubur di lahan rawa, membuktikan bahwa pada abad ke-7 hingga ke-10 Masehi, wilayah ini adalah pusat industri pengolahan parfum dan farmasi global.
Bukan Sekadar Pelabuhan, Tapi Pabrik Kimia
Jika Barus dikenal sebagai gerbang ekspor, Situs Bongal diduga kuat merupakan kawasan industrinya. Temuan ribuan botol kaca kecil (vial) dan peralatan distilasi kuno menunjukkan bahwa masyarakat di sana sudah mampu mengolah bahan mentah dari hutan Sumatera-seperti damar, kemenyan, dan kapur barus-menjadi minyak atsiri (parfum) siap pakai.
Arkeolog senior, E. Edwards McKinnon, dalam berbagai diskusi mengenai pesisir barat Sumatera menekankan pentingnya temuan ini:
"Distribusi kaca asal Persia dan Timur Tengah di Situs Bongal menunjukkan aktivitas ekonomi yang sangat spesifik. Ini adalah bukti adanya proses nilai tambah (processing) terhadap komoditas hutan, bukan sekadar perdagangan transit."
Koneksi Global Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
Keberadaan fragmen kaca berwarna warni dan koin-koin emas di situs ini menegaskan bahwa Sumatera Utara adalah pemain kunci dalam jalur perdagangan "Jalur Sutra Maritim". Teknologi kimia untuk pembuatan parfum yang berkembang di dunia Islam saat itu, ternyata dipraktikkan langsung di pesisir Tapanuli Tengah.
Sejarawan Ludvik Kalus dalam penelitian mengenai prasasti dan perdagangan Islam awal mencatat:
"Sumatera adalah poros penting yang menghubungkan peradaban Barat dan Timur. Temuan botol-botol kimia ini menunjukkan adanya transfer teknologi yang luar biasa di masa tersebut."
Simak Video "Mengungkap Keunikan Ikan Panggang Pacak di Tapanuli Tengah"
(astj/astj)