BRIN Jelaskan Soal Kualitas Air Sinkhole yang Ramai Diambil Warga di Sumbar

Yulida Medistiara - detikSumut
Sabtu, 17 Jan 2026 05:00 WIB
Foto: Lubang raksasa yang ada di tengah sawah, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, ramai didatangi warga. (Jeka Kampai/detikcom)
Jakarta -

Ramai warga datang ke lokasi sinkhole di Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), untuk mengambil air. BRIN pun buka suara soal kelayakan air dari dalam sinkhole tersebut.

Dilansir detikNews, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari mengatakan bahwa air di dalam sinkhole tidak bisa langsung dikonsumsi dan harus diuji terlebih dulu.

"Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan," ujar Adrin, dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).

Kata Adrin, sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah. Prosesnya berlangsung dalam waktu lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan permukaan tanah.

"Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan," katanya.

Kemudian seiring waktu, air permukaan dan air tanah yang mengalir melalui rekahan tersebut menyebabkan rongga semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya. Sehingga ketika terjadi hujan lebat, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga pada suatu titik tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.

"Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole," ujar Adrin.

BRIN menyebut fenomena sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki bentang alam karst atau kawasan batugamping. Beberapa daerah yang rawan terjadi sinkhole antara lain Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros, yang secara geologi memiliki lapisan batugamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.

Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah kesulitan dalam mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Sebab proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara visual.

Namun, sebenarnya keberadaan rongga batugamping dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.



Simak Video "Video: Ayu Savitri, Ilmuwan di Balik Penemuan 23 Spesies Keong Baru Nusantara"


(mjy/mjy)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB