Nur Cahaya Nasution mengikuti pelatihan membuat batik yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Sumatara Utara (Sumut) tahun 2009 lalu. Pelatihan itu menjadi cikal bakal Nur Cahaya membuka usaha batik yang kini jadi sumber penghasilan anak-anaknya.
Berbekal kemampuan membatik yang didapat dari pelatihan, Nur Cahaya, mencoba peruntungan membuka usaha batik dengan motif etnis yang ada di Sumut. Cerita ini disampaikan Zuhrita Kustiwi, anak almarhumah Nur Cahaya Nasution.
"2010 pertama kali mulai, sudah 14 tahun. Setelah ikut pelatihan muncul niat buat batik," cerita Zuhrita didampingi suaminya Tuful Zuchri Siregar saat berbincang dengan detikcom Sabtu 16 Maret 2024.
Karena almarhum ibunya yang menjadi pelopor maka usaha batik yang kini dikelolanya diberi nama UD Mitra Cahaya. "Cahaya itu kan nama ibu," katanya.
Diceritakan Zuhrita saat itu bukan hanya almarhum ibu nya yang ikut pelatihan membatik. Hanya, dari sekian banyak peserta pelatihan ibunya yang berani membuka usaha batik.
"Dari pelatihan yang dibuat Dekranasda Sumut itu hanya almarhum ibu yang berani membuka usaha batik," ungkapnya.
UD Mitra Cahaya yang berlokasi di Jalan Letdasujono, Gang Al Halim No 1, mulanya adalah Lembaga Keterampilan Pelatihan (LKP) pelatihan yang didirikan Nur Cahaya. LKP itu dibuat untuk memberikan pelatihan kepada siapa saja orang yang ingin belajar membatik.
Sedangkan usaha produksi batik dilakukan di Jalan Letdasujono, Gang Musyawarah. Karena banyak kain batik yang dihasilkan dari pelatihan, diputuskan LKP dijadikan tempat produksi kain batik untuk dijual.
"Yang di Gang Musyawarah itu masih adik yang pegang. Kalau yang di sini, saya dan suami yang kelola," tutur wanita yang juga seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di RS Haji Medan itu.
Orang-orang yang ikut pelatihan oleh almarhum ibunya kemudian diajak ikut bekerja di UD Mitra Cahaya. Setelah 10 tahun lebih sejak saat itu, para pekerja tersebut ada yang masih ikut bekerja dan juga membuka usaha batik sendiri.
Mengenai modal awal yang dikeluarkan untuk memulai usaha batik diakuinya tidak sedikit, Zuhrita dan suami menyediakan uang hingga Rp 100 juta. Uang itu dipergunakan untuk membeli peralatan dan bahan baku.
"Alhamdulillah yang ikut bekerja sama kami ada 20 orang. Ada yang kerja dari sini, ada juga dari rumah. Sebelum pandemi pekerja sampai 38 orang, karena produksi menurun makanya jumlah pekerja berkurang," tuturnya.
Dengan 20 pekerja, setiap bulannya UD Mitra Cahaya menghasilkan 700 lembar kain batik dengan berbagai motif. Jumlah itu menurun jauh dari sebelum pandemi yang mencapai 3.000 lembar bakal kain yang diproduksi setiap bulannya.
"Kapasitas kita memang bisa 3.000 lembar, setelah pandemi belum sepenuhnya pulih," lanjutnya.
Tuful menambahkan, dia dan istri tidak terlalu memaksakan produksi harus kembali sebelum masa pandemi. Ia mensyukuri yang didapat hari ini, karena usaha membuat batik bukanlah satu-satunya mata pencaharian mereka.
"Saya dosen, ada juga mekanik alat-alat kesehatan. Ibu (istri) ASN, kami tak terlalu ngoyo kali, tapi pendapatan dari usaha batik ini alhamdulillah," katanya.
Kemampuan Galeri Ulos Sianipar dalam menerima kain batik yang mereka produksi juga menjadi alasan untuk tidak menaikkan produksi hingga 3.000 lembar.
"Kami tidak ada pasarkan kain ini di luar, semuanya diantar ke Galeri Sianipar. Sejak awal berdiri kami sudah kerjasama dengan mereka, berapapun hasil produksi langsung diantar ke sana dan mereka terima semua," jelasnya.
Akan Produksi Motif Baru. Baca Halaman Berikutnya...
Simak Video "Video: Dirut BRI Paparkan Evolusi Industri Perbankan"
(astj/astj)