Yayasan Jantung Indonesia Berikan Pelatihan Bantuan Hidup

Kartika Sari - detikSumut
Minggu, 25 Sep 2022 20:15 WIB
peserta saat ikut simulasi pelatihan bantuan hidup di Indonesia Heart Bike 2022 Medan. Foto: Kartika Sari/detikSumut
Peserta saat ikut simulasi pelatihan bantuan hidup di Indonesia Heart Bike 2022 Medan. Foto: Kartika Sari/detikSumut
Medan -

Ratusan peserta Indonesia Heart Bike 2022 Medan antusias ikuti pelatihan bantuan hidup di Aula Tengku Rizal Nurdin Medan. Pelatihan ini kolaborasi antara Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Sumut dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) Sumut. Dokter Spesialis Jantung Hasinah mengungkapkan bahwa pelatihan pertolongan henti jantung perlu untuk dipelajari. Hal ini lantaran henti jantung mendadak dapat terjadi tanpa mengenal waktu.

"Kita semua henti jantung bisa terjadi dimana, kapan, dan siapa saja. Trennya bahkan bukan hanya yang usia tua tapi saat ini kita sering melihat korban yang usia muda. Kalau kita lihat di Amerika, atlet sehat banyak yang terkena henti jantung," ungkap Hasinah di hadapan ratusan peserta, Minggu (25/9/2022).

Dijelaskan Hasinah, seseorang yang mengalami henti jantung dapat ditolong asal dengan teknik yang benar. Ia pun mengambil contoh pemain bola Christian Eriksen yang pernah mengalami henti jantung namun dapat kembali pulih.


"Ada contoh pemain bola Eriksen yang selamat karena diberikan pertolongan pertama yang cepat. Jadi seandainya ada henti jantung yang mendadak, ini yang ditakutkan terhentinya aliran daerah secara spontan maka korban dapat mengalami kerusakan otak hingga meninggal dalam hitungan 8-10 menit," ujarnya.

Hasinah menyebutkan jika bantuan pertolongan pertama untuk orang yang mengalami henti jantung harus dapat dilakukan oleh semua orang. Untuk itu, Hasinah mengajak lima peserta untuk melakukan simulasi pertolongan bantuan hidup dengan menggunakan manekin medis.

Lima peserta tampak begitu antusias mendengarkan instruksi dari Ketua Perki Sumut Nizam Akbar mengenai teknik melakukan bantuan hidup dalam kondisi darurat. Mula-mula, peserta diberi arahan untuk memastikan kondisi korban dengan teknik dua no (no Response dan no breathing).

"Kita pastikan dia jatuh ini pingsan atau jantung, caranya cukup dua no yaitu no response atau tidak sadar. Tidak perlu ditampar ya. Kedua no breathing, kalau laki-laki bisa dilihat apakah dadanya bergerak atau tidak. Yang jelas kita cuma lihat dua no. Kalau keduanya tidak ada, berarti bukan karena pingsan, shock tapi adalah henti jantung," jelas Nizam.

Setelah mendengar instruksi ini, peserta melakukan teknik pengecekan melalui manekin. Ditegaskan Nizam, begitu menemui kondisi seperti ini, penolong dapat langsung menghubungi pertolongan medis.

"Kita harus telpon call for help (119)," tuturnya.

Adapun untuk melakukan teknik kompresi dada sebanyak 23 kali dan menekan pas di tengah dada.

"Bahunya lurus kemudian tekannya 32 kali. Mengenai pernapasan tidak diajarkan selama pandemi, tapi saran saya berikan. Kalau bapak/ibu geli dengan kumisnya, ambil sapu tangan dan letakkan di mulut dan tiupkan. Ingat, dia tidak bisa bernapas jadi tidak bisa mengambil oksigen, harus kita yang berikan," ucapnya.

Selain lima peserta yang praktek langsung, peserta lainnya tampak begitu antusias melihat teknik pertolongan henti jantung dengan bergantian menggunakan manekin tersebut.

Talkshow edukasi ini merupakan satu diantara rangkaian acara Indonesia Heart Bike 2022 Medan. Selain talkshow, YJI juga turut berkerjasama dengan beberapa pihak seperti rumah sakit untuk pelayanan pemeriksaan gratis, produk umkm, senam sehat, dan gowes sepeda bersama Ketua YJI Sumut Nawal Lubis.



Simak Video "Goes Bareng Mika Tambayong di Indonesia Heart Bike 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(bpa/bpa)